Pendidikan sebagai Senjata Lawan Kemiskinan
Jauh dari hiruk pikuk ibu kota provinsi, di pelosok-pelosok Maluku, kemiskinan ekstrem menjadi tembok penghalang bagi mimpi-mimpi anak bangsa. Komisi X DPR RI, melalui suara lantang Mercy Chriesty Barends, melihat langsung keterkaitan erat antara kemiskinan dan rendahnya mutu pendidikan.
Di kantor BPS Maluku, terungkap fakta bahwa wilayah timur Indonesia adalah “kantong-kantong kemiskinan ekstrem.” Fokus utama mereka adalah pengentasan melalui penguatan sektor pendidikan.
“Pendidikan menjadi salah satu penentu Indeks Pembangunan Manusia,” tegas Mercy, menyoroti pentingnya rata-rata lama sekolah dan kualitas pendidikan.
Ia melihat langsung bagaimana minimnya infrastruktur pendidikan, yang ironisnya berada di bawah kewenangan Kementerian PUPR, menjadi batu sandungan besar. “Koordinasi tengah dilakukan agar urusan infrastruktur dikembalikan ke Komisi X,” ujarnya, sebuah harapan agar anggaran dapat dialokasikan lebih merata dan tepat sasaran.
Namun, Mercy tak hanya melihat masalah, ia juga membawa secercah harapan melalui beasiswa dan Program Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Ia miris melihat angka partisipasi pendidikan yang merosot tajam di tingkat SMA hingga perguruan tinggi.
“Beasiswa dan program KIP Kuliah menjadi solusi agar anak-anak miskin bisa terus bersekolah,” katanya dengan nada penuh keyakinan, pada penghujung 2024.
Persoalan distribusi guru juga tak luput dari perhatian Mercy. Penarikan guru ASN dari sekolah swasta, yang notabene mendominasi lanskap pendidikan Maluku, memperparah ketimpangan. “Rasio sekolah negeri dan swasta di Maluku masih timpang,” ungkapnya, mendorong adanya tunjangan tambahan untuk guru di daerah terpencil sebagai insentif.
Di tengah tantangan, kabar baik pun hadir: Maluku terpilih menjadi salah satu dari delapan proyek SMA Unggul Garuda yang akan ditingkatkan menjadi sekolah berstandar internasional. SMA Siwalima menjadi mercusuar harapan, dengan kucuran anggaran besar untuk transformasi.
“Ini peluang besar untuk meningkatkan mutu pendidikan di Maluku,” serunya, membangkitkan optimisme. Tak hanya pendidikan formal, pengembangan sektor olahraga dan perpustakaan, termasuk digitalisasi naskah kuno, juga menjadi perhatian Komisi X. Pendidikan vokasi pun didorong untuk mempersiapkan SDM Maluku menghadapi persaingan global.
Sebagai satu-satunya wakil Maluku di Komisi X, Mercy Barends membawa amanah besar untuk membangun SDM berkualitas di tanah kelahirannya. “Setelah 10 tahun di Komisi VII, kini saya ingin fokus pada pembangunan SDM Maluku yang unggul dan berdaya saing,” pungkasnya dengan tekad membara.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



