potretmaluku.id – Penurunan jumlah titik panas di sejumlah wilayah Indonesia belum mengendurkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan. Di Maluku, kebakaran masih terjadi ketika kondisi kering dan sebaran asap membuat risiko karhutla tetap tinggi.
Kementerian Kehutanan mencatat 527 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi pada Ahad, 4 Oktober 2026, hingga pukul 21.10 WIB. Jumlah itu turun 139 titik dibanding sehari sebelumnya yang mencapai 666 titik.
Data tersebut, sebagaimana dilansir infopublik.id, berasal dari pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) menggunakan satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20.
Penurunan terutama terjadi di sejumlah provinsi yang menjadi prioritas pengendalian karhutla. Sumatera Selatan, misalnya, turun dari 254 menjadi 75 titik. Kalimantan Barat turun dari 26 menjadi 19 titik, sedangkan Kalimantan Selatan dari 18 menjadi 15 titik.
Riau dan Jambi bahkan tidak lagi mencatat hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi pada periode pemantauan tersebut. Secara keseluruhan, enam provinsi prioritas –Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat– mencatat 225 hotspot, turun dari 429 titik sehari sebelumnya.
Namun, Kalimantan Tengah justru menunjukkan kenaikan dari 96 menjadi 116 titik. Kondisi itu membuat pemerintah tetap mempertahankan operasi darat dan udara, termasuk patroli, pengecekan lapangan, pemadaman, penyekatan penjalaran api, pembasahan, serta pendinginan.
Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang dideteksi satelit, bukan angka kejadian kebakaran atau luas lahan yang terbakar. Setiap indikasi karena itu tetap perlu diverifikasi di lapangan.
Maluku Masih Menghadapi Kebakaran
Di Maluku, persoalan karhutla justru masih menjadi perhatian. BNPB melaporkan kebakaran terjadi di Desa Saalas, Kecamatan Bula, dan Desa Silohan, Kecamatan Bula Barat, Kabupaten Seram Bagian Timur, pada 29 September.
Kebakaran dipicu kondisi panas dan angin kencang yang mempercepat penjalaran api pada vegetasi yang mengering akibat kemarau. Hingga 1 Oktober, sekitar 40 hektare lahan dilaporkan terbakar. Api kemudian berhasil dipadamkan setelah BPBD Kabupaten Seram Bagian Timur bersama tim gabungan melakukan pemadaman dan pendinginan.
Peristiwa tersebut bukan kejadian pertama di wilayah itu. Sepanjang 11 Juli hingga 31 Agustus 2026, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Seram Bagian Timur mencatat 82 titik karhutla yang telah ditangani.
Keterbatasan sumber daya menjadi tantangan tersendiri. Sebelumnya, Kesatuan Pengelolaan Hutan Seram Bagian Timur menyebut luas kebakaran berdasarkan analisis geospasial mencapai sekitar 280 hektare. Petugas juga menghadapi keterbatasan armada dan akses menuju kawasan hutan yang berada di perbukitan atau pegunungan.
Kondisi kering juga berdampak pada ketersediaan air. Di Kabupaten Seram Bagian Barat, misalnya, menurunnya debit sumber air dan sumur warga di Desa Piru, Kecamatan Seram Barat, berdampak pada sekitar 80 kepala keluarga. BPBD setempat sampai harus mendistribusikan 8.000 liter air bersih pada 1 Oktober.
Ancaman bukan hanya berasal dari api. BMKG pada awal Oktober masih mencatat adanya asap tipis hingga sedang di sejumlah wilayah Maluku. Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon juga memperingatkan potensi asap kategori sedang dalam beberapa hari berikutnya. Asap tersebut antara lain berkaitan dengan kebakaran di Pulau Buru dan Pulau Seram serta pergerakan asap dari wilayah lain.
BMKG sebelumnya mencatat 322 hotspot di kawasan Papua dan Maluku pada 30 September. Angka tersebut merupakan bagian dari total hotspot yang terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia dalam kondisi atmosfer yang masih relatif kering.
Kondisi Kering Belum Berakhir
BMKG menyebut kondisi kering masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia memasuki Oktober. Pemantauan Hari Tanpa Hujan hingga dasarian II September menunjukkan 1.474 titik mengalami periode tanpa hujan kategori panjang hingga ekstrem panjang.
Pada 30 September, hotspot terdeteksi sebanyak 159 titik di Sumatera, 193 titik di Kalimantan, serta 322 titik di Papua dan Maluku. BMKG menilai kondisi tersebut menunjukkan masih tingginya potensi karhutla di wilayah yang mengalami kekeringan dan periode tanpa hujan yang panjang.
Kondisi atmosfer juga belum sepenuhnya berubah. BMKG menyatakan El NiƱo dengan intensitas sangat kuat masih mempengaruhi pola cuaca Indonesia. Pada saat yang sama, penguatan Monsun Australia membuat sebagian wilayah Indonesia bagian selatan cenderung lebih kering.
Meski demikian, hujan lebat tetap dapat terjadi secara lokal karena pengaruh dinamika atmosfer, suhu muka laut, serta daerah konvergensi dan belokan angin. Kontras tersebut membuat sebagian wilayah menghadapi hujan, sementara wilayah lain masih rentan terhadap kekeringan dan karhutla.
Karena itu, penurunan hotspot nasional tidak serta-merta menandai berakhirnya ancaman kebakaran. Kementerian Kehutanan meminta masyarakat dan pelaku usaha tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
Pemantauan udara juga terus dilakukan karena asap karhutla dapat meningkatkan konsentrasi partikulat PM2,5. Pemerintah meminta masyarakat di wilayah terdampak mengikuti perkembangan kualitas udara dan mengurangi aktivitas luar ruang jika kondisi memburuk.
Di daerah seperti Maluku, persoalan tersebut menjadi lebih kompleks karena kebakaran berlangsung bersamaan dengan tekanan kekeringan dan keterbatasan sumber daya pemadaman. Respons cepat terhadap titik api menjadi penting agar kebakaran tidak berkembang menjadi kejadian yang lebih luas.
Pemerintah daerah dan masyarakat juga perlu meningkatkan pengawasan pada kawasan yang mudah terbakar, terutama ketika vegetasi mengering dan sumber air mulai berkurang.(TIA)
Penulis :
Editor :



