Tak semua kenangan terukir dalam kata-kata. Ada yang hidup dalam aroma, dalam sepotong rasa yang sederhana, dalam desir angin yang mengantar tawa masa kecil dari lorong waktu yang jauh.
Di sebuah negeri kecil bernama Oryana, di Pulau Haruku, Maluku Tengah, seorang anak lelaki tumbuh dalam pelukan alam dan cinta yang diam-diam mengakar.
Namanya Ilham. Ia adalah cucu pertama dalam keluarga ibunya, dan sejak belum genap berusia satu tahun, ia telah diboyong kakek dan neneknya kembali ke kampung halaman, meninggalkan riuh kota untuk hidup dalam pelukan bumi yang lebih sunyi, lebih jujur.
Di rumah kampung sederhana, beratap rumbia, Ilham mengenal dunia. Di sanalah ia membentuk imajinasi, belajar menyebut nama-nama pohon, dan menyimpan dalam memorinya sepotong roti manis yang kelak akan hidup sepanjang usia.
Kakeknya adalah lelaki berkulit sawo matang dan bertubuh kokoh, petani yang juga nelayan, yang akrab dengan matahari dan garam laut. Tangannya kasar, namun ketika menggenggam tangan kecil Ilham, ada kehangatan yang tak bisa dilupakan.
Kakeknya bukan orang yang banyak bicara, tetapi setiap gesturnya adalah bahasa cinta yang tak perlu diterjemahkan.
Neneknya adalah perempuan yang seakan tak pernah kehabisan tenaga. Mulutnya sibuk menyanyi, bersenandung, atau bercakap sambil memasak.
Sang nenek membuka warung kecil di teras depan rumah, warung yang menjadi persinggahan warga sepulang dari kebun. Meski hanya menjual barang-barang sederhana seperti gula, sabun colek, kopi bubuk dan es sirup merah, warung itu hidup karena tawa dan keramahan sang pemiliknya.
Namun, warisan paling berharga dari sang nenek bukanlah warung itu. Melainkan roti manis buatannya, roti kampung yang bentuk dan bahannya biasa saja, tapi bagi Ilham, roti itu menyimpan dunia.
Setiap pagi, jauh sebelum ayam berkokok, Ilham sering terbangun oleh suara pukulan lembut tangan nenek pada adonan. Di dapur yang hangat dan remang-remang, aroma ragi dan gula menyebar perlahan. Ia akan berdiri diam di ambang pintu, mengintip dari balik tirai.
Neneknya menoleh, tersenyum, dan berkata, “Sudah bangun, Ilham? Sini bantu nenek.”
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



