Amboina

Roti Manis dari Negeri Oryana

CERPEN

Ia duduk di bangku kayu kecil, membentuk adonan seadanya. Nenek membetulkan bentuknya pelan-pelan, lalu berkata penuh kasih, “Bagus, bagus. Nanti jadi lebih enak karena tangan Ilham.”

Roti itu tak langsung dimakan. Biasanya, ia dibungkus sebagai bekal. Sebab setelah matahari mulai naik, kakek akan mengajak Ilham menyusuri jalan setapak menuju kebun, melewati ilalang, akar kenari, dan sunyi yang dipenuhi suara alam. 

Kakek membawa parang dan kamboti (wadah tradisional yang terbuat dari anyaman daun sagu atau daun kelapa). Ilham membawa roti dalam kantong kain kecil dari bekas karung terigu.

Begitu mencapai kebun, mereka berhenti di pancuran mata air di bawah rumpun bambu. Air jernih ditimba dengan gayung bambu, lalu diseduh menjadi teh tubruk di atas tiga bongkahan batu karang. Ketel tua mengeluarkan uap perlahan, menari-nari di antara dedaunan pagi. Aroma teh dan roti manis pun berpadu, membangunkan seluruh kenangan yang kelak tak akan pernah pudar.

Di atas batu besar, mereka duduk. Menikmati roti yang dicelup dalam teh hangat. Tak banyak bicara. Hanya kalimat pendek dari sang kakek, seperti, “Pohon kenari itu sudah waktunya panen,” atau, “Nanti bantu bersihkan semak-semak, ya.”

Namun, dalam diam itulah cinta tumbuh paling kuat. Dalam sunyi kebun dan semilir angin, Ilham merasakan: dunia sedang baik-baik saja.

Roti itu menjadi penanda kebahagiaan kecilnya. Dengan pinggiran yang sedikit renyah, bagian dalam yang lembut, dan rasa manis yang tak berlebihan, roti itu seperti rangkuman masa kecil yang tak bisa diulang.

Tapi ada satu pagi yang berbeda. Pagi saat langit tampak lebih gelap dari biasanya. Ilham terbangun, bukan oleh aroma roti, tapi oleh kesunyian yang aneh. Dapur itu sepi. Tirai tak bergerak. Ketika ia menyibak kain penutup itu, ia melihat nenek duduk di lantai, bersandar pada dinding dapur. Wajahnya pucat, tangan kirinya menggenggam dada.

“Nenek kenapa?” tanya Ilham tergagap.

Nenek menoleh perlahan. Senyumnya masih ada, meski tampak lelah. “Maaf, roti kita hari ini agak terlambat,” katanya lirih.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button