Meski tubuhnya lemah, nenek tetap bersikeras membuat adonan. Tangan tuanya bergerak lambat, tapi pasti. Ia menolak dibantu untuk mengulen. Hanya meminta Ilham menyiapkan loyang dan mengatur api.
Hari itu, roti yang keluar dari oven tidak terlalu mengembang, warnanya agak pucat. Tapi aromanya, aroma yang sama sejak Ilham kecil menikmatinya. Roti itu dibungkus seperti biasa, diselipkan ke dalam kantong kain.
“Kalau nanti nenek tidak bisa ikut ke dapur lagi,” kata nenek pelan, “kamu harus tetap buat roti ini. Walau cuma sekali setahun.”
Hari itu menjadi pagi terakhir Ilham melihat neneknya memanggang roti.
Waktu berjalan. Ilham tumbuh. Ia meninggalkan kampung untuk sekolah di kota. Rumah kayu itu mulai sepi. Neneknya berpulang ketika Ilham baru masuk perguruan tinggi. Kakeknya menyusul beberapa tahun kemudian.
Warung kecil itu kini tinggal papan lapuk dan rak kosong. Namun di hati Ilham, aroma roti manis itu tak pernah benar-benar pergi.
Suatu hari, ia mencoba membuat roti itu sendiri. Mencari resep, membeli bahan, menguleni adonan dengan tangan yang tak seahli tangan neneknya dulu. Roti yang jadi padat, terlalu manis, dan agak hangus, tak seperti yang ia kenal. Tapi saat duduk dan menyesap teh, ia tersenyum. Sebab bukan rotinya yang ia cari, tapi kenangannya.
Barulah ia mengerti, bahwa yang membuat roti itu istimewa bukan bahan atau cara panggangnya, tapi cinta yang menyusup diam-diam di setiap gerakan nenek. Cinta yang tak banyak diucapkan, tapi hadir dalam tiap bulatan adonan, tiap senyuman pagi, dan tiap bekal yang diselipkan ke dalam tas kecilnya dulu.
Kini, setiap kali Ilham mencium bau roti manis di toko, di pasar, atau di mimpinya sendiri, ia tahu, itu adalah panggilan dari masa lalu. Dari negeri kecil di tepi laut. Dari jalan setapak menuju kebun kacang. Dari tangan tua yang pernah membentuk hidupnya dengan sabar dan penuh cinta.
Ia tahu, ia tak bisa menciptakan ulang rasa itu. Tapi ia bisa menuliskannya. Menyimpannya dalam kata. Karena kenangan terbaik kadang tak bisa disantap, hanya bisa dikenang.
Dan kelak, ketika cucunya bertanya tentang kampung halaman, Ilham akan tersenyum dan berkata, “Di sanalah neneknya membuat roti terenak sedunia. Roti yang tak hanya mengenyangkan perut, tapi juga menjaga hati tetap hangat.”(Embong Salampessy)
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



