Pertunjukan Muara Sungai, Laut, dan Tallo Bersejarah Padukan Partisipasi dan Koloborasi

Pada sesi sore, tenggelam bersama puisi, tampil membacakan puisi dari UKM Seni Pancoran UKI Paulus, dan seorang murid SMP.
Sofyan Basri dari Ruang Abstrak Literasi, juga tampil membaca puisi Karaeng Pattingalloang Galileo dari Timur karya Rusdin Tompo. Pada malam hari, masih ada beragam penampilan.
Dongeng kebudayaan dengan pesan pentingnya menjaga ekosistem laut, yang ditampilkan Kak Mangga dkk, sangat menghibur anak-anak.
Anak-anak dan warga diajak tidak membuang sampah ke laut, yang jadi bagian dari cerita. Pasinrilik Arif Daeng Rate, tampil memainkan cerita sejarah Kerajaan Tallo, di era keemasan kekuasaan Karaeng Matoaya.
Pertunjukan seni budaya yang disebut-sebut warga sebagai pesta rakyat ini, saat pembukaan dihadiri Sekcam Tallo, Lurah Tallo, dan RT/RW se-Kelurahan Tallo. Dinas Kebudayaan Kota Makassar, dan beberapa staf Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX juga hadir.
Saat prosesi panaik-panaung, yang diadakan menjelang Magrib, panca dengan seserahan dilarungkan ke laut. Begitu panca yang berisi ayam goreng 2 ekor, songkolo empat warna, telur, pisang, burasa, dan aneka buah diturunkan, anak-anak langsung berebutan. Ada yang mengaku merinding saat mengikuti prosesi itu menuju ke laut.
Alghifari Jasin melakukan performance art di tanggul Marbo, dengan membawa setumpuk buku. Ia mengenakan baju dan sarung putih.
Saat berada di atas perahu, dia mengatakan, Tallo punya sejarah yang panjang. Banyak arsip dan ilmu pengetahuan yang dimiliki tapi entah di mana semua itu.
“Karena itu kita perlu menulis. Dengan menulis kita membuat sejarah sendiri, yang akan diarsipkan menjadi buku-buku,” imbuhnya.(*/TIA)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi




