Nah inilah, kata Paman Gery, yang namanya kemasan. Bagaimana kemasan itu dibuat untuk bisa mengajak anak-anak untuk interaktif, kemudian dibuat dalam bentuk permainan.
“Sehingga bukan hanya menonton orang ngomong gitu ya. Kalau hanya menonton orang ngomong, tentu itu semua akan sangat membosankan. Tapi bagaimana kemudian mendongeng ini menjadi suatu kegiatan yang bermain sama-sama. Kemudian juga bisa ditebak dan dilakukan bersama-sama,” bebernya.
Bahkan pada momen-momen tertentu, kata Paman Gery, dirinya mengajak anak-anak juga untuk berperan bersama-sama di dalam dongeng yang dia ceritakan. Jadi bukan hanya menjadi penonton tapi mereka terlibat di dalamnya. Ini kata dia, yang harus diperhatikan supaya anak-anak tetap punya ketertarikan dengan dunia dongeng.
Baca Juga: Batik Motif Mega Mendung dan Wadasan: Serupa Tapi tak Sama
Ia memastikan, semua orang di setiap tingkat usia punya ketertarikan untuk mendengarkan dongeng. Jadi bukan hanya dunia anak-anak. Cuma yang membedakan adalah isi ceritanya.
“Mungkin kalau teman-teman dewasa pernah dengar yang namanya stand up comedy gitu kan ya. Nah stand up komedi itu sama aja kayak pendongeng, kayak pencerita. Tapi isi ceritanya bukan tentang princes, bukan cerita tentang dinosaurus, bukan cerita tentang kerajaan gitu, namun adalah kehidupan real atau kehidupan nyata,” paparnya.
Baca Juga: Ngopi Seperti “Ureueng” Aceh
Itu disebut Paman Gery, yang biasanya dipakai oleh teman-teman stand up comedian. Jadi mereka kata dia, adalah pencerita atau pendongeng, cuman isinya membedakan. Ada beberapa cerita-cerita yang sifatnya imajinatif yang didongengkan, tapi didongengkan bukan dalam bentuk orang bertutur atau berbicara di depan orang, tapi misalnya dibuat dalam bentuk movie atau film cerita ini.
Ia menuturkan, banyak cerita-cerita film yang sebenarnya fiksi. Cerita tentang hal-hal yang tidak ada dan tidak real, tapi ternyata wah luar biasa sekali hasil penjualannya. Berarti apa? Kata Paman Gery, berarti orang-orang yang sudah dewasa pun ingin menonton movie itu, ingin didongengkan dengan film itu, yang sebenarnya aja adalah sesuatu yang fantasi atau imajinatif.

“Bayangkan film tentang robot-robotan. Film tentang jago-jagoan. Sebut saja itu semua adalah film-film yang paling laku di dunia ini. Jadi itu adalah film-film yang juga isinya fantasi imajinasi. Yang nonton siapa? Bukan anak-anak kecil saja, mereka sudah dewasa. Artinya yang sudah dewasa pun tetap dengan dongeng itu, atau dengan cerita khayal itu sangat tertarik cuma kemasannya sekarang berbeda gitu,” ungkapnya.
Dari pengalamannya mendongeng selama ini, menurut Paman Gery, cerita yang paling disukai anak-anak hampir semua cerita yang ada. “Sebenarnya jujur saja, semua cerita itu disukai oleh anak-anak. Biasanya kalau berdasarkan penelitian, cerita yang paling disukai anak-anak itu adalah cerita yang misalnya ada princessnya atau fabel. Fabel itu adalah hewan-hewan yang bisa ngomong ya jadi ada kelinci bisa bicara, kelinci ketemu temannya seekor siput misalnya seperti itu,” bebernya.
Baca Juga: Sumba, Kuda, dan Warisan Marapu
Biasanya anak-anak, lanjut Paman Gery, senang dengan fabel. Fabel artinya hewan-hewan yang kemudian dibuat cerita seakan-akan mereka jadi makhluk yang berbicara satu sama lain, nah itu fabel.
“Juga cerita-cerita yang bersifat kerajaan atau cerita-cerita bersifat kehidupan di istana gitu ya. Tapi sebenarnya semua cerita anak-anak itu suka. Yang jadi kuncinya adalah bagaimana caranya untuk bisa si pencerita ini menyampaikan ceritanya dengan apa yang anak-anak inginkan,” terangnya.
Apa sih anak-anak inginkan? Menurut Paman gery, yang anak-anak inginkan itu adalah bermain bersenang-senang, fun gitu ya jadi sesuatu yang imajinatif, lucu kemudian juga entertaining atau menghibur. Jadi dia menyarankan, jangan cerita yang malah menakut-nakuti atau malah membuat menimbulkan kesan menyeramkan gitu.
Baca Juga: Little India di Tengah Medan
Fun entertainning, lucu kemudian juga interaktif, tambah dia, itu semua adalah kunci untuk bisa membuat anak-anak itu tersampaikan dongengnya. “Jadi kalau itu bisa dipakai oleh si pencerita atau pendongeng sebenarnya dongeng apapun bisa saja disampaikan kepada anak-anak,” pungkasnya.(*)
Rubrik KAWAN JEBI merupakan kerjasama redaksi potretmaluku.id dengan Jelajah Bineka (Jebi), sebuah komunitas yang dibentuk dengan tujuan merangkul anak muda Indonesia untuk lebih peduli terhadap keragaman budaya di Indonesia
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



