
Secara refleks Pak Hidayat memindahkan satu potong ayam ke piring saya, dan sepotongnya lagi ke piring anak saya, Gandhi.
Kepedulian dan perhatian tampaknya merupakan kunci pertemanannya. Hidayat memang dikenal sebagai polisi yang gaul dan bersahabat. Ini buktinya. Saat pulang dari Selayar, saya mabuk berat. Teman saya, Pak Nas, menyampaikan bahwa saya muntah.
Padahal, saya sudah berusaha untuk menyiasati agar tidak ‘dipermainkan’ ombak laut, dengan naik ke ruang kerja nakhoda Kapal Ferry Bontoharu.
Namun, rupanya tidak mempan. ‘Bakat bawaan’ mabuk laut tak bisa dihindari. Begitu tiba di Bira, Kabupaten Bulukumba, dalam perjalanan kembali ke Makassar, kami singgah untuk makan dan ngopi.
Setelah mendengar bahwa saya mabuk laut, saya diberi tips agar bisa segera pulih. Semula saya ragu karena sudah minum kopi susu. Tapi Pak Hidayat meyakinkan, katanya, untuk mengeluarkan angin (bersendawa) maka saya perlu minum-minuman bersoda.
Karena kepedulian dan perhatiannya itulah membuat saya menitikkan air mata, saat acara peluncuran dan bedah buku “7342 Mengawal 115 Pulau” di Lapangan Golf, Tonasa 1, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.
Saya tak kuasa menahan keharuan teramat sangat, saat menceritakan sikap dan keputusan beliau yang tidak melakukan proses hukum terhadap seorang anggotanya yang lalai menaruh senjata api organiknya.
Akibat kelalaiannya itu berujung fatal dan terpaksa harus dibayar mahal karena istri dari polisi itu tertembak anaknya sendiri hingga tewas. Anak yang berusia 9 tahun dan masih polos itu dirawat oleh para Polwan untuk pemulihan traumatisnya.
Yang membuat saya kagum, sengaja tanggal penerbitan buku itu disesuaikan dengan ulang tahun istrinya, Ibu Raden Sonia Hadijah.
Dalam acara itu saya katakan, sebagai penulis buku, saya tidak pernah sengaja menghadiahkan buku yang saya tulis untuk istri saya.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



