Pendapat

Nasrul dan Hikayat di Balik Buku M Hidayat

PENDAPAT

Oleh: Rusdin Tompo (Koordinator SATUPENA Provinsi Sulawesi Selatan)


Mengapa menulis polisi? Itu pertanyaan yang belakangan sering saya dengar. Bukan satu dua kali ada teman bertanya seperti itu.

Pertanyaan biasa, yang sebenarnya tak harus ditanyakan. Pertanyaan yang tersirat pernyataan. Bukan soal mengapa saya menulis tentang polisi. Namun, apa istimewanya polisi, sehingga ia layak ditulis? Pertanyaan yang mengandung nada skeptik, curiga penuh geledah.

Ada apa dengan polisi? Bukankah mereka adalah Bhayangkara, para pengawal negara? Polisi tentu juga punya banyak cerita untuk dibagikan. Sebagian, atau malah, banyak yang bisa jadi inspirasi dan motivasi.

Ada banyak sisi yang bisa dituturkan, yang bisa dituliskan. Bukan hanya perkara kriminal atau berbagai segi kejahatan. Polisi juga punya prestasi dan reputasi yang layak dibagi agar bisa direplikasi pada bidang hidup lainnya.

Maka, pertanyaan mengapa polisi, seperti hendak menebak misteri Ilahi. Ini cara cepat saya menjawab pertanyaan. Yang pasti, polisi punya kisahnya sendiri. Bagai hikayat dengan sosok tokoh, yang tanpa dinyana, bisa dua kali diajak kerjasama mengerjakan bukunya.

Screen Shot 2024 06 21 at 10.05.12

Pertama, buku berjudul “730 Hari Mengabdi” (Rayhan Internedia, 2015), dan kedua berjudul “7342 Mengawal 115 Pulau” (Pijar Press, 2015). Dua buku yang berkisah tentang kiprah dan kinerja AKBP Mohammad Hidayat B., S.H., SIK., M.H. Buku pertama ketika yang bersangkutan menjabat sebagai Kapolres Kepulauan Selayar, sedangkan buku kedua ketika bertugas sebagai Kapolres Pangkajene Kepulauan.

Mohammad Hidayat, kini berpangkat Kombes (Komisaris Besar). Setelah berdinas di Sulawesi Selatan, kariernya meningkat. Ia antara lain pernah bertugas di Provinsi Banten, lalu ke Kalimantan Timur, setelah itu di Polda Jawa Barat. Tiga kali pindah tugas, ia diserahi tanggung jawab terhadap pengamankan objek vital nasional.

Perkenalan saya dengan polisi yang akrab disapa Dayat itu, terjadi ketika kami sama-sama mengisi acara “Deng Mampo” (dendang mari-mari poso) di TVRI Sulawesi Selatan, tahun 2011.

Hidayat masih Kasatlantas Polrestabes Makassar, dan saya masih Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Daerah Sulawesi Selatan. Hampir empat tahun kemudian, tepatnya pada awal Januari 2015, saya kembali bertemu dengan Pak Hidayat, saat tengah ngopi di Black Canyon, Mal Ratu Indah, Makassar. Dalam pertemuan tak terduga inilah muncul rencana menulis bukunya.

Sungguh, tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa saya akan menulis buku tentang sosok polisi. Kini, saya sudah menulis dan menjadi editor buku untuk beberapa orang polisi, dari pangkat Komisaris Polisi (Kompol), Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP), Jenderal Bintang Dua, hingga Jenderal Bintang Tiga.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2 3 4 5Next page

Berita Serupa

Back to top button