Pendapat

Nasrul dan Hikayat di Balik Buku M Hidayat

PENDAPAT

Segera ia menunjukkan kepedulian dan memberi contoh tentang apa itu sinergitas. Beliau mengajak seluruh elemen masyarakat Selayar mendukung Ati menjadi juara dengan mengirim sms.

Kisah-kisah dalam buku “Mohammad Hidayat, Bukan Polisi Biasa” ditulis oleh Pak Nas, selama kami berada di Kota Benteng, ibu kota Kabupaten Kepulauan Selayar, dalam rangka penulisan buku pertama Pak Hidayat.

Pria penggemar sepak bola itu mengundang kami untuk melihat secara lebih dekat apa yang dilakukannya sebagai Kapolres selama hampir dua tahun di kabupaten yang terletak di bawah kaki Pulau Sulawesi tersebut. Beliau mau kami melihatnya dengan mata kepala sendiri. Lebih nyata, bukan sekadar kata orang atau menurut kabar berita.

Saya sendiri punya kesan mendalam selama dan sepulang dari Selayar. Saya ingat, pagi hari, saya ikut sarapan di Rujab Kapolres bersama para perwira Polres Kepulauan Selayar sambil mencicipi nasi goreng buatan Marthen Sepang (Toko Tondano).

Nasi goreng yang diakui enak oleh Pak Hidayat. Benar saja, rasa pedas nasi goreng itu menjadi daya pikatnya untuk nambah. Sembari sarapan bersama, saya menyaksikan suasana ‘rapat’ Mohammad Hidayat dengan bawahannya.

Screen Shot 2024 06 21 at 09.44.14

Mereka memberi laporan perkembangan situasi, sementara sang Komandan memberi arahan dan petunjuk. Kami bukan hanya sarapan di Rujab Kapolres, bahkan nginap di rujab yang berada dalam area Mapolres Kepulauan Selayar.

Ketika kami makan malam di Warung Nasi Santan Botak, ada kejadian tak terlupakan, yang sering saya ceritakan kepada keluarga. Saat itu, kami makan nasi santan dan ikan bakar bersama beberapa anak buahnya. Nasi santan dengan ikan bakar, daun kemangi, mentimun, tumis kangkung, dan sambal merupakan kuliner andalan daerah itu.

Di depan kami—saya kebetulan duduk berhadapan dengan Pak Hidayat—masing-masing terhidang satu porsi nasi santan dan dua ekor ikan bakar. Saya cukup lahap makan, sehingga dua ekor ikan jatah saya cepat tandas. Melihat di atas piring saya hanya bersisa tulang, Pak Hidayat spontan memindahkan seekor ikannya yang masih utuh ke piring saya.

Kejadian serupa berulang saat saya mengajak anak saya, San Valentino Mahatma Gandhi, menemui beliau di salah satu hotel di kawasan Tanjung Bunga, Makassar, untuk kepentingan meng-update informasi terkait penyusunan bukunya.

Kali ini bukan ikan, tapi ayam goreng. Di pungujung makan siang itu, sisa ayam tinggal dua potong. Sementara kami berempat: saya, Gandhi, seorang teman Pak Hidayat, dan Pak Hidayat.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5Next page

Berita Serupa

Back to top button