AmboinaMusik

Menjelang 7 Tahun Ambon Kota Musik, AMO dan IAKN Ambon Perkuat Kolaborasi

potretmaluku.id – Pemerintah Kota Ambon melalui Ambon Music Office (AMO) terus memperkuat ekosistem industri kreatif dan pendidikan musik di Kota Ambon.

Menjelang peringatan tujuh tahun predikat Ambon sebagai City of Music dari lembaga UNESCO pada akhir Oktober mendatang, AMO menggandeng Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon untuk membangun kolaborasi strategis berbasis akademik dan pertunjukan.

Pertemuan antara Direktur AMO Ronny Loppies beserta sejumlah deputinya, dengan Rektor IAKN Ambon Elka Anakotta berlangsung di ruang kerja Rektor IAKN Ambon, Halong Atas, pada Rabu, 23 September 2026.

Pertemuan ini membicarakan keterlibatan akademisi dan mahasiswa dalam perayaan yang dijadwalkan berlangsung pada 30–31 Oktober 2026.

Direktur AMO, Ronny Loppies, menjelaskan bahwa perayaan tahun ini mengusung tema Music for Education. Tema tersebut dipilih untuk menegaskan kembali landasan utama yang diakui UNESCO saat menetapkan Ambon sebagai Kota Musik, yakni integrasi antara kebudayaan dan kurikulum pendidikan.

Menurut Ronny, penguatan ekosistem tidak cukup hanya mengandalkan panggung pertunjukan, tetapi juga memerlukan jalinan jejaring dari tingkat lokal hingga internasional yang bertumpu pada lembaga pendidikan.

Dalam perayaan mendatang, musisi lokal dari IAKN Ambon akan berbagi panggung dan ruang diskusi dengan sejumlah musisi luar negeri, di antaranya dari Belanda, Belgia, serta perwakilan program Erasmus. Rangkaian acara meliputi pertunjukan musik lintas budaya, workshop keilmuan, hingga forum pertukaran pengetahuan (knowledge sharing).

Rektor IAKN Ambon, Elka Anakotta, menyambut baik kemitraan tersebut. Ia menilai kolaborasi ini menjadi momentum penting untuk menjembatani talenta alamiah masyarakat Ambon dengan disiplin ilmu perguruan tinggi.

Menurut Elka, narasi bahwa orang Ambon memiliki bakat bermusik sejak lahir, harus diimbangi dengan kultur akademik yang matang.

“Orang Ambon memang dikenal pandai bernyanyi dan bermusik secara alamiah. Namun, kehadiran program studi musik di kampus bertugas memberi pendasaran ilmiah atas identitas tersebut. Dengan begitu, masyarakat tidak sekadar tahu cara bermusik, tetapi juga mengerti secara mendalam karya yang mereka hasilkan,” kata Elka.

Ia menambahkan, tantangan utama para mahasiswa seni kerap muncul saat mereka mulai terjun ke dunia industri dan memperoleh penghasilan sebelum menyelesaikan studi.

Kondisi ini, kata dia, acapkali membuat motivasi akademik menurun. Melalui ruang workshop dan forum internasional ini, mahasiswa diharapkan menyadari pentingnya penguasaan teori untuk menopang keberlanjutan karier profesional mereka.

“Bakat otodidak memang modal awal yang bagus, tetapi karya yang lahir dari pemahaman teori yang kuat akan jauh lebih berkualitas dan bertahan lama. Kami ingin mendorong mahasiswa agar tidak sekadar mengejar tren pasar yang bersifat sementara, melainkan melahirkan karya yang memiliki bobot keilmuan,” tutur Elka.

Meski menghadapi keterbatasan alokasi anggaran secara mandiri untuk agenda skala internasional, IAKN Ambon berkomitmen mengoptimalkan sumber daya manusia, baik dosen maupun mahasiswa, untuk menyokong keberhasilan perayaan tersebut.

Kemitraan ini dipandang sebagai bentuk simbiosis mutualisme antara pemerintah daerah, lembaga pengelola kota musik, dan institusi pendidikan tinggi dalam menjaga keberlanjutan predikat Ambon sebagai Kota Musik Dunia.(Yeni/Maryo)

Ambon Music Office (AMO) menggandeng IAKN Ambon untuk memperingati tujuh tahun penetapan Ambon sebagai Kota Musik Dunia versi UNESCO melalui panggung kolaborasi lintas negara dan penguatan fondasi akademis.

 

 


Penulis :
Editor :

Berita Serupa

Back to top button