Pendapat

Menghadirkan Damai Sejati di Tapal Batas 2025

PENDAPAT

Belajar dari kisah damai dan konflik di Ambon sepanjang 2025 ini, ada sejumlah pelajaran yang kita renungkan bersama. Ketika meminta bantuan AI untuk meringkas benturan dan konflik di Ambon sepanjang tahun 2025 muncul ringkasan ini: “Sepanjang tahun 2025, Ambon mengalami beberapa insiden konflik, termasuk bentrokan antarwarga di Hunuth-Hitu pada Agustus yang dipicu tawuran pelajar dan menyebabkan rumah terbakar serta pengungsian, ketegangan di Suli pada April terkait isu sosial, serta bentrokan pemuda di Tugu Trikora Januari yang dipicu miras dan balap liar, menunjukkan adanya dinamika konflik yang dipicu masalah sosial seperti tawuran dan miras yang berkembang menjadi bentrokan fisik, meskipun aparat terus berupaya menjaga stabilitas dan rekonsiliasi”

Ringkasan (AI overvieuw) ini menunjukan bahwa konflik itu tak terhindarkan. Benturan terjadi dengan berbagai alasan. Ia dapat terjadi kapan dan dimana saja. Tugas kita adalah melakukan telaah dan kajian yang mendasar dan menyeluruh terhadap kondisi konflik itu.

Tentu tidak ada akar tunggal dalam konflik. Tidak ada solusi instan terhadap konflik multidimensi. Olehnya riset yang mendalam perlu dilakukan. Kita mengapresiasi keseriusan pemerintah dan masyarakat untuk menyelesaikan konflik-konflik dimakud.

Dapat disampaikan harapan pula agar Pemerintah daerah mengalokasikan dana untuk riset-riset yang serius terkait akar konflik dan strategi bina damai. Perguruan tinggi yang ada di Ambon perlu melakukan riset-riset mendalam sekaligus memberi rekomendasi praktis kepada pemerintah dan masyarakat untuk program bina damai (peace building).

Tuntutan penegakan hukum dan keadilan tak terhindarkan. Aparat kepolisian dan penegak hukum perlu sungguh-sungguh dan tuntas menjalankan tugasnya, khususnya menangkap dan mengadili pelaku konflik untuk memberi rasa keadilan bagi korban dan masyarakat.

Konflik bercita rasa etnis perlu disikapi dengan perspektif yang lebih utuh. Sebab etnisitas itu sendiri sebuah konsep yang cair dan dinamis serta interseksional. Kadang kita terjebak dalam streotipe bahkan banalitas (kedangkalan) dalam membaca dan menyikapi konflik bercitarasa etnis.

Ketika menyebut konflik antar Orang Seram Timur dan Orang Rohomoni misalnya, kita tidak boleh menyederhanakan secara geografis dan biologis semata. Atau pertanyaan di media sosial tentang apa kaitan budaya Orang Kei dan Orang Seram Timur misalnya, dapat dijawab dengan pandangan yang beragam, tergantung konteks dan kepentingannya.

Jika kita mendefeniskan etnis secara kaku dan sempit, maka kita kehilangan aspek dinamis dan progresif dari etnis itu sendiri. Sebab Orang Seram Timur atau Orang Kei tentu punya akses relasi dengan Orang Rohomoni, misalnya melalui perkawinan, persahabatan atau pengalaman bersama pada sebuah masa.

Analisis konflik bercita rasa etnis, bisa ditelisik pada dimensi lain misalnya konflik berlatar belakang kepentingan ekonomis, gesekan antar pemuda, sentiment-sentimen psikologis antar individu, atau kekecewaan terhadap kebijakan-kebijakan publik yang tidak berpihak kepada kelompok-kelompok tertentu, dan sebagainya. Untuk itu, sekali lagi butuh kajian dan riset mandalam untuk solusi yang komprehensif.

Di tapal batas waktu 2025 adalah penting kita tepekur sejenak untuk mempertanyakan apa makna hidup kita dalam ziarah kehidupan ini. Apakah kita telah menghadirkan damai dan kebaikan bagi sesama? Apakah kita adalah pribadi yang terbuka dan saling merangkul ataukah terjebak dalam ego sektoral dan kelompok tertentu?

Tugas dan panggilan suci kita saat ini adala membangun jembatan persahabatan dan persaudaraan. Jangan membangun tembok pemisah. Kita semua dipanggil dan diutus menghadirkan damai, kemaslahatan, bonnum commune, kebaikan bagi semua. Di tengah realitas bencana ekologis yang dihadapi bangsa ini, kita juga dipanggil untuk menghadirkan empati dan solidaritas untuk mewujudkan damai sejati bagi sesama warga bangsa dan alam semesta.

Selamat melangkah ke akhir tahun 2025 dan Selamat melangkah bersama memasuki tahun baru 2026. Katong Samua Basudara ! (RR)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

 


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2
Tags

Berita Serupa

Lihat Juga
Close
Back to top button