
Oleh: Pdt Rudy Rahabeat (Pebelajar Antropologi)
Pemerintah kota Ambon menggemakan tagline “Beta Par Ambon, Ambon Par Samua”. Demikian pula pemerintah Provinsi Maluku menggulirkan tagline “Par Maluku Pung Bae”. Kedua tagline ini jika dipadukan maka dapat dirumuskan dalam satu panggilan etik yakni, lakukan yang baik untuk kebaikan semua (manusia dan alam semesta).
Panggilan ini makin mendesak dan relevan di tengah realitas kisruh dan konflik yang terjadi di Ambon dan Maluku serta berbagai tempat lainnya sepanjang tahun 2025 ini. Pada tapal batas waktu ini marilah kita berefleksi bersama dan berjalan bersama untuk menghadirkan damai yang sejati bagi semua.
Sahabat beta Ikhsan Tualeka menulis sebuah opini reflektif berjudul: “Merayakan Iman Dalam Persaudaraan: Natal dan Lebaran di Tanah Pela-Gandong” (Potretmaluku.Id, 26/12/25).
Tulisan itu menggugah sekaligus menggugat eksistensi kita sebagai orang beragama sekaligus orang Maluku dan Indonesia untuk terus bertanya tentang seberapa erat persaudaraan dalam spirit agama-agama dan kebangsaan.
Persaudaraan menjadi salah satu keutamaan hidup (virtue) yang perlu terus diperjuangkan di tengah ancaman benturan dan konflik multidemensi. Pada hari yang sama ketika tulisan diatas dirilis, benturan terjadi di Ambon dalam nuansa antar sub suku.
Pada titik ini, kita perlu sungguh-sungguh berpikir dan berjuang untuk perdamaian sejati di bumi raja-raja ini (Maluku) dan Indonesia. Perdamaian bukan sekedar klise dan retorika tetapi sebuah agenda dan panggilan mulia kemanusiaan bersama yang perlu terus kita hidupi.
Tulisan sederhana ini merupakan sebuah refleksi di tapal batas waktu, jelang tutup tahun 2025 sekaligus menyambut tahun baru 2026. Umat Kristiani telah merayakan Natal 2025 dan tahun depan 2026 umat Islam akan merayakan lebaran (Idul Fitri 1447 H).
Semua momen perayaan hari raya keagamaan menjadi momen perenungan sekaligus peneguhan komitmen untuk menjadi rahmat bagi semesta ciptaan (rahmatan lil alamin). Agama-agama terpanggil untuk berkolaborasi berkontribusi mewujudkan perdamaian yang sejati. Bahkan boleh dibilang panggilan menghadirkan damai yang sejati adalah tugas suci agama-agama.
Konflik dan damai adalah narasi perineal yang dihidupi umat manusia sejak ada di bumi ini. Kitab-Kitab Suci juga menggambarkan konflik dan perang antar suku bahkan antar negara. Konflik itu kemudian didamaikan oleh kesadaran untuk melaksanakan perintah Tuhan.
“Berbahagialah orang yang membawa damai. Sebab mereka adalah anak-anak Allah”. Ajakan ini berdimensi universal. Sebab untuk apa kita menjadi umat beragama jika konflik menguasai hidup kita.
Perang-perang berlatar agama juga muncul dalam panggung sejarah di masa lalu, bahkan masih terjadi di masa kini. Apakah kita akan menyerah dan permisif terhadap budaya kekerasan dan perang atau kita tetap konsisten sebagai pembawa damai yang militan dan sejati.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi
Berita Serupa
-
AB Iwan Azis, Kunjungi Warkop Puluhan Tahun Tetapi Tidak NgopiFebruary 13, 2026



