MalukuMusikNasional

Menembus Ruang Sunyi Musik Kepulauan: Ketika Musisi Maluku Merajut Daya di Panggung Eksperimen

Sementara itu, Grace Sahertian menyoroti kekayaan materi inkubasi yang mempertemukan talenta-talenta muda Ambon dengan beragam eksplorasi musik, mulai dari ambient, etnik, rap, hingga gabungan mantra lokal. Grace terkesan melihat kemahiran anak-anak muda ini dalam mengolah diksi lirik dan komposisi musik yang seolah mengalir alami. 

Kendati demikian, Grace mengingatkan bahwa program pendampingan seperti MTN Lab memiliki keterbatasan durasi. Ia menekankan pentingnya perubahan pola pikir (mindset) peserta agar tidak menggantungkan cita-cita pada program eksternal, melainkan mengambil tanggung jawab penuh untuk terus berkarya secara mandiri dan membangun jejaring industri secara aktif.

Daya tarik inkubasi ini turut dirasakan oleh Argon, musisi muda yang sengaja bertolak langsung dari Kota Tual, Kepulauan Kei. Perjalanan menyeberangi lautan ini menjadi bukti nyata dahaga talenta muda dari wilayah kepulauan luar Pulau Ambon akan akses edukasi kreatif. 

Bagi Argon, kesempatan terlibat selama lima hari merupakan pengalaman berharga yang tidak hanya memberinya wawasan teknis “songwriting” dan produksi modern, tetapi juga kesempatan melahirkan karya kolaborasi kolektif bersama Tesla Munaf. 

“Katong di Maluku memang sangat butuh kegiatan-kegiatan seperti ini untuk membuka pandangan baru tentang cara berkarya dan mengemas karya secara profesional,” tutur Argon.

Rasa optimistis memancar kuat dari Argon usai menyelesaikan seluruh rangkaian workshop hingga panggung presentasi karya mandiri. Menurutnya, kelimpahan bakat seni di Maluku, baik di bidang musik, literasi, maupun sastra, membutuhkan wadah konsisten agar dapat bersaing di tingkat nasional. 

“Beta sangat optimistis bahwa teman-teman peserta, katong semua 10 orang, bisa mengeksekusi materi dengan baik. Katong sudah membuktikannya di hari terakhir saat mempresentasikan karya masing-masing. Kegiatan ini punya dampak yang sangat baik buat katong semua,” tegas Argon usai tampil di panggung puncak.

Ruang Belajar yang Jujur dan Edukatif

Tak hanya hiburan dan dentum musik, panggung malam itu juga menjadi ruang belajar yang jujur. Salah satu momen berkesan terjadi saat seorang opa sempat keliru mengenali judul lagu. Lewat celoteh polos sang anak dan penjelasan lembut dari Lola Abrahams di atas panggung, kekeliruan itu diluruskan secara natural. 

Penonton pun tersenyum paham, bukan cuma pulang membawa rasa senang, tapi juga pengetahuan baru bahwa lagu karya maestro Opa Bing Leiwakabessy yang selama ini dikira berjudul “Pohon Sagu” ternyata berjudul asli “Hasil Maluku”.

Vili Aponno, salah seorang pengunjung konser, menilai momen edukatif dan keterbukaan eksperimen semacam ini memberi warna baru bagi atmosfer musik Ambon. 

Penghormatan kepada sejarah musik Maluku ini sendiri diawali lewat tradisi “Hasa-Hasa Jazirah”, saat para peserta bertandang ke keluarga almarhum Opa Bing Leiwakabessy.

“Panggung ini membuktikan bahwa Ambon sebagai City of Music butuh lebih banyak ruang eksperimental seperti ini. Musisi tidak boleh dibiarkan terkotak-kotak hanya pada genre populer seperti Pop Melayu. Di sini, penonton dan musisi belajar saling menghargai bentuk-bentuk musik baru,” puji Vili.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button