Dari sudut pandang penyelenggara, Sugi Aryani dari pihak MTN menjelaskan bahwa tahap inkubasi MTN Lab dirancang khusus bagi peserta terpilih dari program Asah Bakat untuk mengasah kemandirian dan membangun pijakan karir (trajectory) musisi.
Sugi mengamati bahwa potensi terbesar talenta Ambon terletak pada ketajaman penulisan lagu (songwriting), di mana para peserta mampu menghasilkan lirik berkualitas hanya dalam waktu singkat.
Meski dibatasi oleh ruang dan anggaran program, MTN terus berupaya membukakan pintu jejaring nasional, termasuk memfasilitasi salah satu lulusannya untuk dilirik kurator festival AKSEA di Bali.
Menambahkan hal tersebut, Piere Ajawaila mewakili Rempah Gunung merinci alur lima hari inkubasi yang secara runtut menggembleng 10 peserta terpilih.
Rangkaian diawali dari pembekalan lirik pada hari pertama, penyusunan struktur karya dan trajectory pada hari kedua, strategi branding serta monetisasi pada hari ketiga, dilanjutkan tradisi Hasa-Hasa Jazirah dan rekaman kolektif pada hari keempat, hingga panggung presentasi karya pada hari kelima.
Sebagai bentuk apresiasi dan pengawalan karya berkelanjutan, Rempah Gunung memilih dua karya terbaik untuk diproduksi secara penuh dan disebar ke ekosistem industri yang lebih luas.
Malam di Rempah Gunung bersama MTN Lab ini akhirnya membuktikan satu hal: musik bukan cuma soal apa yang didengar, melainkan tentang bagaimana seluruh elemen merayakannya bersama-sama.
“Maluku punya kelimpahan bakat, tetapi seniman yang konsisten melahirkan karya mandiri masih sedikit. MTN Lab x Rempah Gunung hadir untuk memicu keberanian itu—menjadikan karya sebagai jejak nyata perjuangan musisi kepulauan,” pungkas Piere.(Tiara)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



