
Ketika tifa diturunkan, masyarakat Saunulu sesungguhnya sedang menurunkan ingatan. Mereka menurunkan rasa sakit, kemarahan, dan dendam yang pernah ada, agar bisa diolah kembali menjadi gerak dan bunyi yang indah. Dan ketika tifa dinaikkan, mereka sedang mengangkat kembali semangat hidup bersama.
Menari untuk Mengingat
Hari itu, saat matahari semakin tinggi, keringat menetes di pelipis saya. Bunyi tifa terus menggema. Di hadapan kami, anak-anak berlari sambil tertawa.
Nene Na masih menari di samping saya, langkahnya pelan tapi pasti. Ia tersenyum, mungkin mengenang masa muda yang jauh di belakang sana.
Di momen itu saya sadar, tarian bukan sekadar gerak tubuh. Ia adalah bentuk doa. Setiap hentakan kaki adalah permohonan agar negeri ini tetap berdamai.
Setiap ayunan tangan adalah pengingat bahwa kami pernah berdiri di sisi yang berseberangan, tapi kini menatap ke arah yang sama.
Mungkin, begitulah cara seni bekerja di tanah Nusa Ina. Ia tidak berteriak tentang perdamaian, tapi memperdengarkannya lewat bunyi tifa, lewat tarian loi, lewat langkah-langkah kecil para perempuan yang terus menari di atas luka.
Semoga, ketika waktu menua dan para nene telah kembali ke pangkuan Pencipta, masih ada anak-anak yang menurunkan tifa itu. Masih ada generasi yang percaya bahwa lewat seni, sebuah negeri bisa tetap berdamai dengan dirinya sendiri.
Saunulu, Seram Selatan, 31 Januari 2024
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



