
Bisa jadi, di situ letak makna terdalam dari seni di negeri ini: ia menjadi ruang simbolik bagi masyarakat untuk terus berlatih hidup berdampingan. Seni, dalam bentuk tarian dan musik, menjadi upaya merawat konflik, bukan untuk mengulangnya, tetapi untuk menjinakkan kenangannya.
Ingatan dan Pewarisan
Ritual kas turung tifa di awal Januari selalu ditutup dengan kas nai tifa pada 31 Januari. Pada saat itu, tifa dikembalikan ke tempat semula, di depan rumah Raja. Setelahnya, kampung kembali ke rutinitas sehari-hari: pergi ke kebun, ke sekolah, ke laut.
Tapi gema tifa yang telah dibunyikan sebulan penuh seperti terus bergetar di dada, mengingatkan bahwa mereka pernah saling kehilangan, dan kini telah saling menemukan kembali.
Tradisi ini melibatkan semua generasi. Anak-anak, orang muda, orang tua, Kristen, maupun Islam. Namun belakangan, saya melihat anak-anak muda mulai jarang ikut menari. Mereka datang sebagai penonton, memotret dengan ponsel, lalu pergi.
Padahal, di dalam setiap hentakan tifa dan setiap ayunan tangan dalam loi, tersimpan pelajaran tentang siapa diri mereka sebenarnya.
Saya sering membayangkan, suatu saat ketika para nene, mereka yang kini menari dengan kaki gemetar tapi penuh semangat, telah berpulang, siapa yang akan menurunkan tifa itu lagi? Siapa yang akan mengingat kapata-kapata tua, nyanyian yang dulu didendangkan para leluhur di tengah ladang dan laut?
Seni bukan hanya pertunjukan. Ia adalah cara sebuah masyarakat menjaga jati dirinya. Jika generasi muda membiarkan tradisi ini hilang, mereka bukan hanya kehilangan kesenian, tapi juga kehilangan bahasa untuk memahami dirinya sendiri.
Seni sebagai Jembatan Ingatan
Di Saunulu, seni dan adat tumbuh bersama pengalaman luka. Konflik dua puluh lima tahun lalu telah meninggalkan bekas dalam ingatan banyak orang.
Namun, lewat kesenian, masyarakat perlahan belajar merawat luka itu, bukan menutupinya. Mereka menari bersama, memukul tifa bersama, dan dalam bunyi itu, mereka menemukan bahasa yang sama, bahasa yang tidak diucapkan, tapi dirasakan bersama.
Barangkali inilah yang membedakan seni di Saunulu dari seni pertunjukan di tempat lain. Ia tidak lahir dari ruang hiburan, tetapi dari ruang penyembuhan. Ia tidak dipentaskan untuk ditonton, tetapi untuk dijalani bersama.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



