Pendapat

Menari di Atas Luka: Seni Merawat Damai di Saunulu

PENDAPAT

Tarian dan Doa di Lapangan

Pagi itu, di lapangan Saunulu, para penari cakalele sudah menunggu. Mereka mengenakan kain merah (kain berang) dan membawa parang kayu di tangan. Beberapa di antara mereka sudah tampak lelah. Kami, para perempuan, segera bergabung untuk menari loi, tarian penyambut yang ditampilkan berdampingan dengan cakalele.

Ada tiga jenis tarian yang ditampilkan dalam budaya kas turung tifa. Maku-maku, sebuah tari pergaulan yang diciptakan leluhur Maluku untuk menggambarkan persekutuan anak-anak negeri; Cakalele, tarian perang yang kini lebih sering ditampilkan sebagai tarian perayaan; dan Loi, tarian perempuan yang menjadi pasangan dan penyeimbang cakalele.

Tarian loi menarik perhatian saya. Tidak seperti cakalele yang gagah dan tegas, loi bertumpu pada kelenturan gerak tangan dan kaki.

Telapak tangan selalu terbuka, bergerak seirama dengan pukulan tifa. Kadang cepat, kadang melambat, seolah mengikuti irama napas penari. Posisi kaki bisa diam, bisa bergerak ringan dengan ujung jari sebagai tumpuan.

Ketika tarian berlangsung, penonton akan datang menghampiri. Mereka menyelipkan uang di sela jari penari perempuan, meletakkan piring, kain, atau barang berharga lain. Itulah nahu, bentuk penghargaan bagi penari, pemukul tifa, dan siapa saja yang terlibat dalam perayaan.

Kami menari bersama: saya, nene Na, nene Apong, nene Anto, dan adik Regina, siswi SMA yang wajahnya bersinar terkena pantulan cahaya pagi. Saat uang diselipkan di jari kami, tangan harus tetap kuat agar tak jatuh.

Kelelahan terasa, tapi tak boleh tampak di wajah. Karena di balik setiap gerak, ada kebanggaan yang lebih besar, bahwa kami, para perempuan, ikut menjaga irama negeri.

Perempuan dan Irama Damai

Saya pernah bertanya kepada Christian Maoke, seorang lelaki yang menjadi salah satu penggerak kegiatan adat, mengapa loi selalu ditampilkan beriringan dengan cakalele. Ia menjawab pelan, “Perempuan itu penetral, pendamai. Kadang penari cakalele bisa terbawa suasana, jadi perempuan yang menari di samping mereka membuat suasananya seimbang.”

Saya melihatnya lebih jauh. Perempuan dalam tarian loi bukan sekadar penyeimbang, melainkan simbol kehidupan itu sendiri. Saat laki-laki menari dengan dentuman tifa yang keras dan ritme cepat, perempuan menari dengan lembut dan tenang. Dua energi itu berpadu, seperti dua sisi Saunulu, Kristen dan Islam, yang saling menjaga agar tak saling meniadakan.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button