Pendapat

Lahan Alang-Alang: Prospek atau masalah dalam Meningkatkan Produkfitas Pertanian Di Dusun Kranjang Desa Wayame Kota Ambon

PENDAPAT

Kelompok tani menggunakan teknik reklamasai alang-alang secara mekanis dengan mengadopsi kaidah-kaidah pengolahan lahan yang menuju pertanian yang ramah lingkungan. Sistem bakar lahan mulai dihindari dalam kelompok tani binaan CSR Pertamina dan dukungan tenaga penyuluh pertanian Provinsi Maluku.

Sistem pemupukan menggunakan pupuk kandang 2 ton per ha ditambah dengan kapur dolomit dengan konsentrasi 250 kg per hektar (Trikoderma). Sistem pemberian pupuk sangat bergantung terhadap kondisi lahan dan tanaman. Misalnya pemupukan untuk tanaman pakcoy 20 hari setelah tanam, dan umumnya pemupukan tanaman hortikultura dilakukan 2 minggu setelah tanam bergantung jenis tanaman.

Alang-alang berpotensi sebagai pestisida botanis yang mengandung senyawa aktif alkaloid, flavonoid, steroid, terpenoid, dan tannin.  Potensi seduhan alang-alang sebagai pengendalian penyakit pada tanaman hortikultura dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman.

Rotasi tanaman sebagai solusi meningkatkan produktivitas pertanian

Rotasi tanaman merupakan praktek penanaman berbagai jenis tanaman secara bergiliran di satu lahan. Rotasi tanam adalah pola tanam yang dilakukan secara bergilir dalam urutan waktu untuk mencegah perkembangan hama dan penyakit, memelihara/ memperbaiki kesuburan tanah (ketersediaan hara dan sifat-sifat fisik tanah) dan mengurangi erosi lahan, meningkatkan retensi air dan hara menurunkan kebutuhan pupuk kimia melalui penanaman tanaman legum, mengendalikan gulma dan memperbaiki struktur tanah (Chen et al., 2012).

Peranan rotasi tanam memiliki peranan terhadap beberapa aspek antara lain agronomi, ekonomi, dan lingkungan. Rotasi tanam yang tepat dapat meningkatkan bahan organik tanah, memperbaiki struktur tanah, mengurangi degradasi tanah dan meningkatkan hasil panen sehingga keuntungan pertanian lebih besar dalam jangka panjang (Christen et al., 2912).

Manfaat dan keuntungan yang dapat diperoleh petani dalam melakukan rotasi tanaman adalah menambah kesuburan tanah, memudahkan pengolahan tanah, mengurangi gulma jahat dan mengurangi risiko serangan hama pada tanaman. Rotasi tanaman mencegah terakumulasinya potogen dan hama sering menyerang satu spesies. Rotasi tanaman juga meningkatkan kualitas struktur tanah dan mempertahankan kesuburan dnegan melakukan pergantian antara tanaman berakar dalam denngan tanaman berakar dangkal. Rotasi tanam merupakan bagi dari polikultur.

Tanaman hortikultura banyak dibudidayakan di Dusun Kranjang Desa Wayame antara lain: tomat, cabe, buncis, dan sayur-sayuran lainnya. Rotasi tanaman merupakan praktek penanaman berbagai jenis tanaman secraa bergiliran di satu lahan.

Rotasi tanam adalah pola tanam yang dilakukan secara bergilir dalam urutan waktu tertentu. Rotasi sering diterapkan petani untuk mencegah perkembangan hama dan penyakit, memelihara dan memperbaiki kesuburan tanah (ketersediaan hara dan sifat-sifat fisik tanah) dan mengurangi erosi lahan, meningkatkan retensi air dan hara serta menurunkan kebutuhan pupuk kimia melalui penanaman tanaman legum, mengendalikan gulma, memperbaiki struktur tanah.

Screen Shot 2023 10 29 at 01.53.43
Gambar 3. Sistem pertanaman hortikultura

Sistem pergiliran tanaman (rotasi tanaman) telah berkembang di Dusun Kranjang Desa Wayame Kota Ambon meliputi lima tipe rotasi tanaman berdasarkan prospek pasar dari tanaman hortikultura unggulan yang laris di pasar Kota Ambon. Kelima tipe rotasi tanaman hortikultura tersebut antara lain: (1) Kacang panjang -> buncis -> cili -> Seledri; (2) Terong -> Buncis -> Kacang panjang -> jagung; (3) Sawi -> Sekata -> Sawi hijau -> Tomat -> Cili; (4) Sawi -> Cabe -> Tomat -> Kangkung; (5) Pakcoy -> Kol -> Tomat -> Labu siam; dan (6) Tomat -> Sawi -> Pakcoy -> Cabe -> Cabe -> Sekata.

Sistem rotasi tanaman hortikultura (1) Kacang panjang -> buncis -> Cabe -> Seledri menurut petani 53,3% jarang diadopsi dalam pertanian mereka. Hal ini dikarenakan . Sistem rotasi (2) Terong -> Buncis -> Kacang panjang -> jagung 46,7% tidak pernah diadopsi, 31,7% selalu diadopsi dan 21,7% jarang diadopsi.  Sistem rotasi tanaman (3) Sawi -> Sekata -> Sawi hijau -> Tomat -> Cabe menunjukkan bahwa petani tidak pernah adopsi 38,3%, diikuti dengan 33,3% selalu adopsi dan 28,3% jarang adopsi sistem ini. Sistem rotasi tanaman (4) Sawi -> Cabe -> Tomat -> Kangkung menunjukkan bahwa 45% jarang diadopsi, 30% selalu diadopsi dan 25% tidak pernah diadopsi. Sistem rotasi tanaman (5) Pakcoy -> Kol -> Tomat -> Labu siam menunjukkan bahwa 41,7% jarang diadopsi, 31,7% tidak pernah diadopsi dan 26,7% selalu diadopsi. Rotasi tanaman (6) Tomat -> Sawi -> Pakcoy -> Cabe -> Cabe -> Sekata menunjukkan bahwa 60% selalu adopsi sistem rotasi tanaman ini, 35% tidak pernah adopsi dan 5,0% jarang mengadopsi.

Penerapan rotasi tanaman memiliki peranan terhadap beberapa aspek antara lain: agronomi, ekonomi dan lingkungan. Rotasi tanaman yang yang tepat dapat meningkatkan bahan organik tanah, memperbaiki struktur tanah, mengurangi degradasi tanah, dan dapat meningkatkan hasil panen sehingga keuntungan pertanian lebih besar dalam jangka panjang.

Manfaat dan keuntungan yang dirasakan petani dalam menanam dengan sistem rotasi yaitu menambah kesuburan tanah, memudahkan pengolahan tanah, mengurangi gulma jahat, dan mengurangi resiko serangan hama dan penyakit pada tanaman. Rotasi tanaman juga mencegah terakumulasinya pathogen dan hama yang sering menyerang satu spesies. Rotasi tanaman juga meningkatkan kualitas struktur tanah dan mempertahankan kesuburan dengan melakukan pergantian antara tanaman berakar dalam dengan tanaman akar dangkal. Rotasi tanaman merupakan bagian dari polikultur.

Penutup

Lahan alang-alang merupakan lahan yang potensial untuk dikembangkan, dan memiliki tingkat kesuburan tanah yang rendah, sehingga diperlukan adanya usaha yang dapat mendukung peningkatan produktivitas lahan, Alang-alang dapat tumbuh pada tanah dengan berbagai nutrisi, kelembaban dan pH, meskipun terkadang gulma pada tanah miskin atau marginal.

Alang-alang mendominasi karena kurangnya kompetisi dari jenis tanaman lainnya yang tidak dapat bertahan hidup di tanah teduh. Namun alang-alang tidak mentolerir lingkungan teduh karena asimilasi karbon melalui jalur fotosintesis C4. Alang-alang memiliki efek allelopati melalui pelepasan zat beracun terutama dari rimpang yang menunda perkecambahan dan menghambat pertumbuhan tanaman lain. Hasil kering alang-alang akang berinteraksi dengan tanaman pertanian. Hal ini berarti bahwa aktivitas allelopati mempengaruhi perkembnagan tanaman yang berkompetisi dengan alang-alang.

Program perluasan areal hanya dapat memanfaatkan lahan-lahan yang kritis. Sementara program intensifikasi dengan melakukan pengolahan yang baik. Salah satu pengolahan tanah yang dianjurkan adalah olah tanah intensif dan olah tanah konservasi.

Pengolahan tanah adalah setiap manipulasi mekanik terhadap tanah untuk menciptakan keadaan tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Tujuan pokok pengolahan tanah adalah untuk menyiapkan tempat tumbuh bagi bibit, menciptakan daerah perakaran yang baik, mebenamkan sisa-sisa tanaman dan memberantas gulma.

Pengolahan tanah minimum (minimum tillage) adalah pengolahan tanah yang dilakukan secara terbatas atau seperlunya tanpa melakukan pengolahan tanah pada seluruh areal tanah. Pengolahan tanah merupakan suatu tindakan yang memiliki tujuan memberantas gulma, memasukkan dan mencampurkan sisa tanaman kedalam tanah dan menggemburkan tanah sehingga terhadap keadaan olah yang diperlukan akar dan akhirnya akan meningkatkan peredaran udara, infiltrasi air, pertumbuhan akar dan pengambilan unsur hara oleh akar.

Pengolahan tanah secara keseluruhan selain kurang efisien juga akan menyebabkan terjadinya degradasi lahan sehingga daya dukung dan produktivitas tanah menurun yang pada akhirnya untuk jangka panjang menyebabkan sistem pertanian tidak berkelanjutan.

Kerugian yang ditimbulkan oleh tanah intensif dalam jangka panjang adalah merugikan pembutiran tanah permukaan, mempercepat oksidasi dan pelaksanaan pengolahan tanah dengan alat-alat berat cenderung merusak agregat tanah yang mantaf dan mempercepat oksidasi bahan organik didalam tanah. Pengolahan tanah yang berlebihan dapat mempercepat kemerosotan kesuburan tanah dan merusak tanah.


Referensi

Adiningsih, S. dan Mulyadi, 1993. Alternatif Teknik Rehabilitasi dan Pemanfaatan Lahan Alang-alang. Dalam Pemanfaatan Lahan Lahan Alang-alang untuk Usahatani Berkelanjutan. Prosiding Seminar Lahan Alang-alang, Bogor 1 Desember 1992, Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor. Badan Litbang Pertanian.

Hairiah K et al.  2000. Reclamation of Imperata Grassland using Agroforestry. Lecture Note 5. ICRAF. (http://www.icraf.cgiar.org/sea).

Irianto,G,S.H. Tala’ohu, dan H. Suwardjo, 1993. Rehabilitasi lahan Alang-alang akibat perladangan berpindah melalui peningkatan produktivitas lahan dan konservasi tanah, hlm 34-38 dalam Risalah Hasil Penelitian Tanah dan Agroklimat, Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Mulyani, A., 2005. Teknologi Menyulap Lahan Alang-Alang Menjadi Lahan Pertanian. Tabloid Sinar Tani, Yogyakarta.

Purnomosidhi P, van Noordwijk M and S Rahayu.  1998.  Shade-based Imperata control in the establishment of agroforestry system (field survey report).

Rachim, Dj. dan Arifin, M. 2011. Klasisikasi Tanah di Indonesia. Pustaka Reka Cipta. Bandung.

Sinukaban, N. 1994. Membangun pertanian menjadi industri lestari dengan pertanian konservasi. Orasi ilmiah guru besar ilmu konservasi tanah dan air. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Sinukaban, N., 1991. Makalah Sumbang Saran Alumni IPB Dalam Perencanaan Pembangunan Pertanian Berkelanjutan di Kabupaten Lampung Barat. Tanggal 9 November 1991.Bandar Lampung.

Sudharto, T., Suwardjo, H., Erfandi, D. dan Budhyastoro, T., 1992 Permasalahan dan Penanggulangan Lahan Alang-alang. Dalam Pemanfaatan Lahan Lahan Alang-alang untuk Usahatani Berkelanjutan. Prosiding Seminar Lahan Alang-alang, Bogor 1 Desember 1992, Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor. Badan Litbang Pertanian.

Sulaeman, Y dan Ani, Mulyani. 2014. Petunjuk teknis penyusunan peta satuan lahan untuk pewilayahan komoditas pertanian skala 1 : 50.000. BBSDLP. Bogor.

Zaini, Z dan Lamid,Z.,  1992. Alternatif Teknologi Budidaya Tanaman Pangan pada Lahan Alang-alang. Dalam Pemanfaatan Lahan Alang-alang untuk Usahatani Berkelanjutan. Prosiding Seminar Lahan Alang-alang, Bogor 1 Desember 1992, Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor. Badan Litbang Pertanian.

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4

Berita Serupa

Back to top button