Pendapat

Lahan Alang-Alang: Prospek atau masalah dalam Meningkatkan Produkfitas Pertanian Di Dusun Kranjang Desa Wayame Kota Ambon

PENDAPAT

 Teknik reklamasi alang-alang secara mekanis (mesin traktor) memiliki kelebihan yakni teknik reklamasi alang-alang secara mekanis sering kali meningkatkan produktivitas pertanian. Mesin-mesin modern dapat membantu dan mempercepat tahaan-tahapan proses usaha tani secara produktif seperti penanaman, penyiraman, pengairan, dan panen secara efektif dan efisien, menghasilkan hasil yang lebih besar dalam waktu yang lebih singkat terutama dalam efisien biaya dan tenaga.

Penggunaan mesin dan peralatan pertanian memungkinkan pekerjaan yang lebih cepat dan efisien dibandingkan dengan metode tradisional yang lebih manual. Ini menghemat waktu dan tenaga petani Kekurangannya adalah biaya operasional dan biaya ganti peralatan jika mengalami kerusakan. Adopsi teknik reklamasi alang-alang secara mekanis dapat mengakibatkan hilangnya keahlian tradisional yang diperlukan dalam pertanian.

Hal ini dapat mengurangi pengetahuan dan keterampilan petani dalam metode pertanian konvensional, yang dapat membahayakan keberlanjutan dan pertanian. Mesin-mesin pertanian dan peralatan yang diperlukan memiliki biaya awal yang tinggi. Investasi dalam mesin-mesin ini dapat menjadi kendala bagi petani dengan sumberdaya terbatas. Namun adopsi mesin tetap membutuhkan peralatan manual seperti cangkul terutama pada lahan-lahan dengan kondisi tanah berbatuan.

Sistem pembukaan lahan menggunakan sistem manual Tebas -> pengumpulan -> Bakar -> Cangkul (TPBC) menurut responden telah jarang diadopsi petani responden (53,3%), diikuti 28,3% selalu diadopsi ketika membuka lahan dan 18,3% tidak pernah diadopsi. Sistem pembukaan lahan manual ini menurut petani lebih menguras waktu dan tenaga selama proses pembukaan lahan yang bersifat lama. Petani yang memiliki keterbatasan sumberdaya masih tetap mengadopsi sistem ini karena menyesuaikan kemampuan keluarga. Persentase ini menggambarkan bahwa modal usaha tani yang dimiliki petani di Dusun Kranjang masih relatif terbatas sehingga adopsi sistem ini juga masih relatif dominan di kalangan petani.

Pembukaan lahan menggunakan adopsi sistem manual Bakar -> Cangkul (BC) dominan 46,7% tidak pernah diadopsi, 31,7% selalu dan 21,7% jarang diadopsi. Sistem pembukaan lahan dengan sistem bakar dan cangkul ini mulai ditinggalkan, diikuti dengan sistem pembukaan lahan yang lebih ramah lingkungan dan hemat biaya. Pengumpulan sisa tebasan rumput dimanfaatkan untuk kompos pupuk, dan petani tidak pernah menggunakan tenaga hewan.

Pembukaan lahan menggunakan sistem herbisida, Bakar -> Herbisida -> Hewan (BHH) tidak pernah (38,3%), selalu (33,3%) dan jarang (28,3%). Pemahaman petani menggunakan sistem pembukaan lahan secara herbisida dengan sistem ini adalah proses penggunaan bahan kimia lebih cepat dan sangat bermanfaat untuk proses pertumbuhan tanaman, Aplikasi herbisida untuk alang-alang yang padat namun tidak menggunakan tenaga hewan, tidak pernah dilakukan menggunakan hewan maupun herbisida karena mahal dan lokasi yang cukup strategis dan Herbisida membantu dalam memudahkan proses sanitasi kebun.

Pembukaan lahan mekanis hewan: Herbisida -> Hewan (HH) jarang diadopsi 45%, diikuti selalu 30,0% dan tidak pernah 25,0%.  Pandangan petani menggunakan herbisida dan hewan yakni sistem ini cukup baik dan bermanfaat untuk tanaman dengan memanfaatkan kotoran hewan kambing sebagai pupuk kendang. Adopsi herbisida tanpa bakar telah dilakukan sejak 8 tahun lalu oleh para petani dalam mereklamasi alang-alang sebelum penanaman. Sebagian petani tidak menggunakan tenaga hewan, namun memanfaatkan kotoran kambing peliharaan untuk pupuk kompos alami

Pembukaan lahan menggunakan sistem mekanis hewan: Tebas -> pengumpulan -> Bakar -> Hewan dominan jarang diadopsi 41,7%, diikuti dengan tidak pernah 31,7% dan selalu 26,7%. Adopsi teknik reklamasi alang-alang menggunakan sistem ini tidak pernah dilakukan menggunakan hewan maupun herbisida karena mahal dan lokasi yang cukup strategis. Sistem pembukaan lahan terakhir menggunakan Traktor didominasi selalu 60,0%, diikuti dengan tidak pernah 35%, dan jarang 5,0%.

Sebagian petani menggunakan traktor merk Honda seri merk Still 3001. khusus untuk untuk mengoalah tanah. Volume kerja menggunakan traktor lebih banyak. Kelebihan pengolahan lahan (reklamasi alang) menggunakan sistem mekanis karena sistem kerja yang sangat cepat dan alang-alang jarang bahkan memanfaatkan mulsa alang-alang cukup efektif membasmi alang-alang. Sistem pembukaan lahan menggunakan traktor dalam pengolahan lahan dapat menghemat waktu dan tenaga dibandingkan dengan metode manual.

Traktor dapat melakukan tugas yang lebih besar dalam waktu yang relatif lebih singkat, sehingga mempercepat proses pengolahan lahan. Sedangkan kekurangan menggunakan traktor dan peralatan pendukungnya dapat mahal dalam hal pembelian, pemeliharaan, dan perbaikan. Investasi awal yang tinggi dan biaya operasional dapat menjadi kendala bagi petani atau pemilik lahan yang tidak mampu.

Kelebihan traktor memungkinkan pengolahan lahan dalam skala besar. Mereka dapat digunakan untuk membajak, menyiangi gulma, dan melakukan tugas-tugas lainnya dalam waktu yang lebih efisien di lahan yang luas. Penggunaan traktor yang tidak tepat atau berlebihan dapat menyebabkan kerusakan pada struktur tanah. Traktor yang terlalu berat atau digunakan pada kondisi tanah yang lembab dapat menyebabkan kompaksi tanah dan degradasi lahan.

Screen Shot 2023 10 29 at 01.51.48
Gambar 2. Lahan pertanian kelompok Tani Mitra di Dusun Kranjang

Lahan pertanian atau tanaman memperoleh hasil yg relatif baik. Sifat fisik tanah merupakan faktor yang bertanggung jawab terhadap pengangkutan udara, panas, air dan bahan terlarut dalam tanah.

Sifat fisik tanah bervariasi pada tanah tropis. Beberapa sifat fisik tanah dapat berubah dengan pengolahan seperti temperatur tanah, permeabilitas, kepekaan terhadap aliran permukaan, dan erosi, kemampuan mengikat air dan menyuplai air untuk tanaman. Pengelolaan lahan pertanian secara terus menerus pada berbagai rotasi tanam dapat meningkatkan berat jenis isi tanah, yang ditunjukkan dengan peningkatan nilai berat jenis isi tanah.

Sistem pembajakan lahan menggunakan traktor untuk kelompok tani yang memiliki luasan Garapan yang besar biasanya melakukan pembajakan lahan 2 kali untuk sekali pengolahan lahan. Produksi hasil pertanian yang diperoleh relatif tinggi, dan efisiensi waktu, tenaga dan biaya relatif sebanding dengan produktivitas yang relatif tinggi.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button