Selama di lokasi KKN, kami pernah diajak warga ke tambak menangkap ikan bolu. Bahkan kami membakarnya di sana, menyantap ikan segar, dengan cabe yang kami petik dari situ pula. Tambak di desa ini mulai dikembangkan sejak tahun 1990an.
Rupanya, tidak semua peserta KKN bernasib mujur, mendapat lokasi yang bagus seperti kami di Paria. Jika sesama anak KKN bertemu, tak jarang keprihatinannya yang diceritakan.
Misalnya, ada teman yang curhat tentang menu makanan, yang hanya merasakan ikan segar bila hari pasar. Selebihnya, katanya, dia makan paku berkarat. Paku berkarat yang dia maksud, ternyata ikan teri kering hehehe.
Saling berbagi kisah dan dinamika di lokasi KKN terjadi bila kami berkunjung ke lokasi teman, atau teman yang ke desa kami. Dalam situasi bertemu di kampung orang ini, keriuhan pasti terjadi, layaknya saudara yang lama tak bertemu.
Situasinya kian seru saat kegiatan di kecamatan. Apalagi, kami mendapat kunjungan Rektor UNHAS, Prof Basri Hasanuddin. Kesempatan untuk berfoto bersama tak disia-siakan. Maklum, di kampus jarang bisa ketemu Rektor.
Pertemuan di kecamatan itu, saya berjumpa dengan Kordes-Kordes lainnya, seperti Mukhlis Amans Hady, Kordes Desa Kaballangang, Soewarno Sudirman, dan Mustafa Jallo. Koodinator Kecamatan (Korcam) Duampanua adalah Hasanuddin.
Mahasiswa KKN Gelombang 42 ini, ditarik lebih cepat dari jadwal yang semestinya. Namun, kami sempat merasakan berpuasa Ramadhan di lokasi KKN, di kampung orang.
Ketika berkemas-kemas, memasukkan pakaian dan perlengkapan ke dalam ransel, saya sempat bertanya ke Ricky, apakah dia mau membawa pulang cerita Donal Bebek-nya. Dia menggeleng, dan memberikan semua majalahnya itu kepada saya.
Majalah sebanyak lebih 30 eksemplar itu pun saya bawa pulang ke rumah sebagai oleh-oleh KKN hehehe. (*)
Makassar, 25 April 2025
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



