Kisah Kamboti dan 500 Petani Membawa Cita Rasa Warisan Maluku ke Pasar Internasional
“Awalnya susah. Petani pikir kita mau beli murah dan jual mahal. Tapi kita ajak mereka ngobrol. Kita tunjukkan contoh pala yang aflatoksinnya tinggi, nggak laku di luar negeri,” jelas Marsenda.
Proses edukasi dimulai sejak 2020. Kamboti mendatangi petani satu per satu di 11 kabupaten/kota di Maluku. Mulai dari Banda Neira, Saparua, Seram Bagian Timur, Pulau Buru, hingga Ambon.
Mereka membawa contoh produk, memperlihatkan hasil uji laboratorium, dan menjelaskan standar Uni Eropa yang sangat ketat, seperti batas Alfatoksin B1, Alfatoksin Total B1, B2, G1, G2 total keseluruhan harus dibawah 10 ppb.
Edukasi ini membuahkan hasil. Para petani mulai menyadari bahwa kualitas pascapanen berpengaruh langsung terhadap harga jual.
Jika pala tidak melakukan pengasapan dan melakukan penanganan pascapanen yang baik, walaupun masih secara sederhana untuk sekalas pekebunan petani kecil dan tidak berjamur, selalu pihak Kamboti mengapresiasi dengan pembelian di atas harga pasar lokal desa setempat.
Inovasi Lapangan – Dari Oven Hybrid hingga Kontainer Mandiri
Salah satu inovasi penting Kamboti adalah menghadirkan oven pengering hybrid (tenaga surya dan listrik) di beberapa titik sentral, seperti di Negeri Mamala. Alat ini memungkinkan pengeringan pala tanpa asap, menjaga kadar air di bawah 10%, dan memastikan tidak ada kontaminasi jamur atau toksin berbahaya.
“Dengan Alat ini, kami bisa keringkan 200 kg pala mentah dalam 72 jam (3 hari) Kualitasnya lebih konsisiten,” ujar petani di Negeri Mamala.
Inovasi lainnya adalah gudang standar ekspor yang mereka bangun di Ambon. Gudang ini sudah memiliki sertifikasi penyimpanan kering, bebas hama, dan dilengkapi fasilitas uji coba kadar aflatoksin. Ini penting karena ekspor ke Eropa mewajibkan uji laboratorium sebelum kontainer dikirim.
Tahun 2023, mereka berhasil mengekspor 14,8 ton pala langsung dari Pelabuhan Yos Sudarso Ambon. Ini bukan hal sepele karena selama ini, ekspor rempah dari Maluku selalu dikonsolidasikan di Jawa Timur. Ekspor langsung ini memangkas biaya logistik hingga 25% dan mempercepat proses pengiriman.
Ekspor 2024 – 8,55 Ton ke Belanda, 84 Ribu Euro
Puncaknya adalah pada 27 Mei 2024, saat pelepasan ekspor Kamboti di pelabuhan Ambon. Mereka mengirim 8,55 ton pala premium ke Belanda. Komoditi yang dikirim yaitu Pala ABCD (grade pertama), Pala Shrivels (grade kedua), Mace Broken (fuli tidak utuh).
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi





