Pendapat

Ketika Energi Muda Tersesat: Saatnya Menyiapkan Wadah di Tanah Maluku?

Ketika Musuh Dipaksa Bersatu

Jeff Malaihollo, sahabat saya yang kini menetap di Inggris, punya cerita serupa. Ia tumbuh di Jakarta, di sekolah yang terkenal dengan tawurannya, SMA Negeri 11 dan SMA Negeri 9, yang kemudian digabung menjadi SMA Negeri 70. “Penyebab tawuran itu sederhana: otak belum matang, adrenalin terlalu tinggi, disiplin sering dilupakan,” katanya.

Tapi ia juga melihat solusinya. Saat dua kelompok musuh dipaksa duduk di satu kelas, belajar bersama, dan berolahraga dalam satu tim, permusuhan itu mencair. Mereka tidak lagi saling serang, melainkan menjadi satu tim yang solid. 

Intinya adalah kegiatan bersama. Model ini kata Jeff, sebenarnya sudah lama dipraktikkan, jauh sebelum kita menyadarinya. Meski masih dalam skala kecil. Sebut saja legenda sepak bola Maluku, Sani Tawainela dan sahabatnya Bung Reza Syaranamual, yang menghindarkan anak-anak di Ambon (Maluku) dari konflik sosial melalui sepak bola. 

Anak-anak dari kampung berbeda digabungkan dalam satu tim, berbagi lapangan, berbagi kemenangan, berbagi kekalahan. Dari sana, tumbuhlah persaudaraan. Bukan persaudaraan dalam slogan, tapi persaudaraan yang dibangun dari keringat dan kebersamaan.

Melangkah Lebih Jauh: Kolaborasi dan Akar Masalah

Sahabat saya yang lain, Lise Yan Sui de Fretes, generasi kedua orang Maluku di Belanda, menambahkan, langkah-langkah di sana tak hanya berhenti di lapangan. 

Ia menceritakan, sekolah-sekolah di Belanda bekerja sama dengan polisi dan pekerja sosial. Mereka saling melapor ketika ada kelompok atau remaja bermasalah, atau ketika perkelahian dan ketegangan terlihat. Latar belakang individu dan kelompok dilihat dan dibicarakan dengan orang-orang yang terlibat untuk memastikan bahwa masalah tersebut tidak meningkat.

Polisi juga mengunjungi sekolah-sekolah untuk mendidik dan berbicara tentang kekerasan. Di balik kejahatan atau kekerasan di jalan dan di sekolah, sering kali ada kekerasan di rumah, karena kemiskinan, pengangguran. Bahkan kata Lise, trauma kekerasan dalam hidup sering diterjemahkan menjadi kekerasan dalam rumah, yang tanpa sadar ditransfer dari generasi ke generasi.

Ini adalah alasan mengapa upaya seperti yang dilakukan Baihajar Tualeka dengan Yayasan Lappan Maluku di lapangan, yang membahas kekerasan di rumah dan menawarkan bantuan, begitu penting. Ini juga yang mereka lakukan di Belanda: kolaborasi antara sekolah, pekerja sosial, polisi, dan orang tua.

Lise melihat Wali Kota Ambon sudah mengambil langkah pertama yang baik, karena perkelahian dan kekerasan tidak dapat dibiarkan. Namun, akan lebih baik jika sumber daya dimobilisasi untuk mendiskusikan secara luas dan melawan kekerasan di rumah dan masyarakat, sebelum masalah itu meningkat di sekolah, di desa, maupun antardesa.

Sebuah Jembatan Bernama Surat

Di tengah semua kegaduhan tentang tawuran, ada upaya lain yang jauh lebih lembut, namun tak kalah berani. Lomba menulis surat cinta untuk gubernur digelar dalam rangka memperingati HUT ke-80 Provinsi Maluku. Aturan lomba terbilang unik: surat harus ditulis tangan di kertas resmi, lengkap dengan perangko, dan dikirim melalui kantor pos.

Bagi panitia, aturan itu bukan sekadar syarat administratif. “Kami ingin menghidupkan kembali budaya surat-menyurat yang kini hampir ditinggalkan,” ujar Zen Anwar, salah satu panitia.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button