Ketika Energi Muda Tersesat: Saatnya Menyiapkan Wadah di Tanah Maluku?
Saudara saya, Idja Latuconsina, yang kini menetap di Belanda sejak tahun 2000, punya pandangan menarik. Ia mengenang masa sekolah di Ambon, di mana tawuran seolah menjadi bagian dari kurikulum ekstra. “Kalau saja ada lomba tawuran, mungkin sekolah-sekolah di Ambon bisa langganan juara,” sindirnya dengan senyum pahit.
Di Belanda, Idja tidak menemukan fenomena serupa. Tidak ada remaja yang berlari sambil memegang senjata tajam. Tidak ada bentrokan di jalanan. Jawaban, menurutnya, bukan pada kecerdasan atau tingkat religiusitas, melainkan pada hal yang lebih primal: fisik.
Menurut Idja, ternyata otak manusia baru matang penuh sekitar usia 25 tahun. Sebelum itu, bagian otak yang bernama prefrontal lobe—yang fungsinya mengambil keputusan bijak—belum sempurna berkembang. Jadi jangan heran kalau ada remaja yang pintar sekali, tapi keputusan yang diambil bisa konyol. Itu bukan soal mereka tidak religius, kurang pintar, atau salah didik. Memang secara biologi, mereka sedang jadi remaja.
Selain itu, gaya hidup juga memainkan peran besar. Kurangnya aktivitas fisik membuat tubuh jarang mendapat kesempatan untuk membakar adrenalin sekaligus menormalkan kadar kortisol, dua hormon yang erat kaitannya dengan stres.
Tanpa olahraga atau gerak tubuh yang cukup, hormon-hormon ini cenderung menumpuk dan menimbulkan berbagai efek samping. Adrenalin yang berlebih membuat seseorang merasa gelisah, sulit diam, dan mudah tersulut emosi. Sementara itu, kadar kortisol yang tinggi menyebabkan stres menumpuk, ketenangan sulit diraih, dan kelelahan mental lebih cepat datang.
Pada remaja, kombinasi ini menjadi semakin rumit. Karena korteks prefrontal mereka belum sepenuhnya matang, tubuh tidak mampu meredam lonjakan hormon-hormon tersebut dengan baik. Dampaknya terlihat nyata dalam perilaku sehari-hari: mereka cenderung bertindak tanpa berpikir panjang, reaktif secara emosional, mudah kehilangan fokus, serta lebih rentan terhadap stres dan kecemasan.
Memahami hal ini penting agar kita tidak salah dalam memperlakukan mereka. Perilaku remaja yang sering tampak brutal sebenarnya berakar dari kondisi biologis, bukan semata-mata kurang ajar atau nakal.
Karena itu, pendekatan dengan gemblengan keras atau hukuman fisik bukanlah jalan keluar. Justru cara-cara tersebut hanya akan memicu lebih banyak adrenalin dan kortisol, membuat remaja semakin defensif, keras kepala, bahkan meninggalkan luka trauma. Dan menangani trauma tentu jauh lebih sulit daripada mencegahnya.
Di Indonesia, adrenalin itu bisa meledak di jalanan. Sementara di Belanda, ia tersalurkan di lapangan sepak bola, hoki, atau kolam renang. Olahraga, kata Ija, bukan sekadar soal keringat. Ini soal menyalurkan energi berlebih, melatih emosi, dan membangun keterampilan sosial.
Anak-anak yang energinya sudah habis di lapangan, tidak punya ruang untuk “meledak” ke arah yang salah, bahkan ketika minuman keras dan narkoba yang di Belanda legal pun mudah diakses.
Jadi, dari cerita Idja itu, bisa kita lihat bahwa selama ini seolah-olah kita lupa, bahwa energi harus punya wadah. Lalu ketika wadah itu tidak ada, ia akan tumpah ruah dan menghancurkan apa pun di jalannya.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



