Gubernur Maluku Menangis, Ratusan Surat Cinta Pelajar Menyentuh Hati
potretmaluku.id – Mata Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa berkaca-kaca. Suaranya bergetar ketika ia melafalkan kalimat demi kalimat dari sepucuk surat tulisan tangan seorang pelajar SMA di Kepulauan Aru.
Surat itu adalah satu dari 380 amplop yang tiba dari berbagai pelosok Maluku, dikirim khusus untuk dirinya dalam lomba menulis “Surat Cinta” kepada gubernur.
Beberapa kali Gubernur Hendrik harus berhenti membaca, menarik napas panjang sebelum melanjutkan. “Saya juga akan menulis dan membalas surat-surat anak-anak yang saya baca,” ujarnya lirih, sambil menyeka sudut matanya.
Momen itu berlangsung pada Kamis, 14 Agustus 2025 lalu, ketika panitia lomba bersama dewan juri menyampaikan perkembangan kegiatan di kantor gubernur. Sepekan kemudian, 21 Agustus, Hendrik dikukuhkan sebagai Sahabat Literasi oleh Perpustakaan Daerah Maluku.
Tradisi Lama, Suara Baru
Lomba menulis surat cinta ini digelar dalam rangka peringatan HUT ke-80 Provinsi Maluku. Pesertanya: pelajar SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah dari seluruh kabupaten/kota. Aturan lomba dibuat berbeda. Surat harus ditulis tangan di atas kertas resmi, lengkap dengan perangko, lalu dikirim lewat kantor pos.
“Bukan sekadar syarat administratif. Kami ingin menghidupkan kembali budaya surat-menyurat yang hampir ditinggalkan,” kata Zen Anwar, salah satu panitia.
Isi surat, kata dia, harus berisi kritik, perhatian, atau saran yang membangun, tanpa serangan pribadi, hoaks, atau ujaran diskriminatif. Peserta juga diwajibkan melampirkan kartu pelajar dan menulis dengan bahasa santun.
“Surat wajib tulus, logis, dan berani. Dari situlah pembentukan karakter dimulai,” ujar Lusi Peilouw, panitia lainnya. Ia menambahkan, lomba ini bukan sekadar mencari pemenang, melainkan membuka ruang dialog antara generasi muda dan pemimpin daerah. Sebanyak 80 surat terbaik akan dibukukan sebagai warisan literasi Maluku.
Dewan Juri dan Kriteria Penilaian
Tiga juri dengan latar belakang berbeda ditunjuk untuk menilai. Dr. Mariana Lewier, akademisi Sastra Indonesia dari Universitas Pattimura; Archristhea Amahoru, dosen psikologi UIN A.M. Sangadji; dan Embong Salampessy, jurnalis senior sekaligus pegiat literasi.
Mariana menilai kekuatan bahasa dan struktur naratif. Archristhea menimbang aspek emosional dan empati. Embong menguji kedalaman pesan serta orisinalitas gagasan.
“Ini bukan sekadar lomba menulis, melainkan ruang belajar tentang keberanian menyampaikan isi hati dengan santun,” kata Zen.
Selain hadiah uang tunai dan merchandise, enam juara utama akan dipilih. Namun, yang lebih penting, 80 karya terbaik akan diabadikan dalam bentuk buku.
Isi Surat: Dari Kritik hingga Pesan Sederhana
Dari ratusan amplop yang masuk, sebagian besar berisi kisah nyata. Ada yang menuturkan sulitnya akses internet di kampung jauh dari ibu kota kecamatan.
Ada pula yang menggambarkan kondisi sekolah yang memprihatinkan: bangku reyot, atap bocor, jalan rusak yang membuat perjalanan ke sekolah penuh rintangan.
Beberapa surat lain menyinggung sulitnya layanan kesehatan. Namun, di antara kritik yang tajam, terselip surat pendek yang sederhana. Isinya hanya sebuah pengingat agar sang gubernur menjaga kesehatan di tengah kesibukannya.
Bagi Gubernur Hendrik, surat-surat itu bukan sekadar pesan simbolik. Ia mengaku menemukan harapan dan kritik jujur dari anak-anak Maluku. “Surat-surat ini mengajarkan saya untuk terus mendengar,” ujarnya.
Jejak Literasi
Lomba ini didukung berbagai lembaga dan komunitas, di antaranya ASDP Indonesia Ferry, POS Indonesia, Percaya Kopi, Blue Ocean Ambon, Gramedia Ambon, serta komunitas literasi Mutiara Maluku.
Panitia menyebut dukungan itu sebagai bukti bahwa literasi bukan hanya milik sekolah dan perpustakaan, melainkan gerakan bersama.
Sebab gerakan literasi yang baik, akan berdampak pada penguatan karakter, karena dengan wawasan yang luas dan pikiran yang kritis anak-anak muda kita tidak asal bertindak.
Ini adalah cara lain untuk menyalurkan energi muda, bukan melalui tinju, melainkan melalui kata-kata yang membangun. Ini adalah cara lain untuk membangun jembatan persaudaraan, bukan lewat lemparan batu, melainkan lewat goresan tinta yang jujur.
Yang membuat lomba ini istimewa, para peserta tak hanya mengirim pesan kepada gubernur, tetapi juga bersentuhan kembali dengan tradisi lama: menulis di kertas, menempel perangko, lalu berjalan ke kantor pos. Sebuah pengalaman yang barangkali asing bagi generasi digital, tetapi justru menghadirkan keintiman yang tak tergantikan.(*/TIA)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



