Pendapat

Ketika Energi Muda Tersesat: Saatnya Menyiapkan Wadah di Tanah Maluku?

Ia menekankan bahwa isi surat harus mengandung kritik, perhatian, dan saran yang membangun, tanpa serangan pribadi, hoaks, atau ujaran diskriminatif.

Dari ratusan amplop yang tiba, sebagian besar berisi kisah nyata kehidupan sehari-hari. Ada yang menuturkan sulitnya jaringan internet di kampung-kampung jauh dari ibu kota kecamatan. Ada pula yang bercerita tentang sekolah dengan kondisi memprihatinkan, bangku reyot, hingga jalan rusak yang membuat perjalanan ke sekolah jadi penuh tantangan.

Yang membuat lomba ini istimewa, para peserta tak hanya mengirim pesan, tetapi juga kembali bersentuhan dengan tradisi lama: menulis di kertas surat, menempel perangko, lalu berjalan ke kantor pos untuk mengirimkan isi hati mereka. Sebuah pengalaman yang barangkali asing bagi generasi digital, tapi justru memberi ruang keintiman yang tak tergantikan.

Ini adalah contoh lain bagaimana ruang bisa diciptakan. Bukan hanya ruang fisik seperti lapangan, tetapi juga ruang batin, ruang dialog, dan ruang untuk menyalurkan keluh kesah dan harapan. Sebuah surat yang tulus, logis, dan berani, kata Lusi Peilouw dari panitia, adalah awal dari pembentukan karakter. 

Sebab gerakan literasi yang baik, akan berdampak pada penguatan karakter, karena dengan wawasan yang luas dan pikiran yang kritis anak-anak muda kita tidak asal bertindak.

Ini adalah cara lain untuk menyalurkan energi muda, bukan melalui tinju, melainkan melalui kata-kata yang membangun. Ini adalah cara lain untuk membangun jembatan persaudaraan, bukan lewat lemparan batu, melainkan lewat goresan tinta yang jujur.

Menyediakan Wadah, Bukan Hanya Slogan

Jadi, masalah tawuran ini bukan hanya soal kurangnya perhatian orang tua atau kurangnya sanksi dari sekolah. Ini adalah masalah mendasar tentang bagaimana kita mengelola energi, bagaimana kita menciptakan ruang bersama, dan bagaimana kita membiarkan otak yang belum matang itu menemukan jalannya. 

Pidato Wali Kota Bodewin memang penting, tapi apakah itu cukup? Apakah kita akan terus berpuas diri dengan slogan “kita semua saudara” tanpa menciptakan ruang di mana persaudaraan itu bisa tumbuh?

Di tengah-tengah sorak sorai anak-anak yang bermain gasing, terselip pertanyaan yang menggantung. Kita bisa mengeluarkan mereka dari sekolah, memarahi mereka di rumah, atau sekadar berharap mereka sadar.

Tapi, apakah itu benar-benar mengobati lukanya? Apakah dengan begitu, darah yang tumpah di jalanan Ambon akan berhenti mengalir? Atau kita hanya menunggu bom waktu berikutnya meledak?

Mungkin, jawaban itu tidak ada di pidato-pidato formal, melainkan di lapangan-lapangan yang kosong, di sanggar-sanggar yang sepi, di setiap tempat di mana energi muda bisa menemukan jalannya yang benar. Masa depan Ambon atau Maluku, tidak ditentukan di ruang rapat, tapi di tangan-tangan yang sekarang sedang memegang gasing, yang besok mungkin akan memegang bola, bukan parang.

Apakah kita akan memberikan mereka kesempatan itu? Atau kita biarkan saja Ambon atau Maluku menjadi tempat di mana anak-anaknya bertarung, bukan untuk masa depan, tapi untuk sebuah masa lalu yang tak pernah benar-benar selesai? 

Apakah Ambon atau Maluku akan terus berinvestasi pada slogan, atau mulai membangun lapangan dan memberi wadah bagi anak-anak muda menyalurkan energinya? Mari bersama-sama kita menjawabnya bukan dengan slogan, tapi dengan aksi nyata, mulai hari ini.(Embong Salampessy)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4

Berita Serupa

Back to top button