Kedaulatan Farmasi Lokal: Bagaimana Nyuwelain Matehu Menjadi Alternatif Pengobatan di Tengah Mahalnya Biaya Medis Modern
Prosesi pembuatan Nyuwelain Matehu dimulai di Rumatau (Rumah Adat) pada malam tanggal delapan Syawal, setelah shalat Isya berjamaah di Masjid al-Muhibbin. Parentta Syara berkumpul bersama Upu Latu Tua (Raja Negeri Mamala) di Rumatau.
Imam Tunny terlebih dahulu meminta izin dan restu di hadapan Raja dengan dialog adat dalam bahasa Mamala. Setelah mendapat restu, dimulailah pembacaan al-Fatihah, shalawat, dzikir, dan tahlilan yang diniatkan kepada Rasulullah SAW, para sahabat, serta arwah para pendiri Negeri Mamala.
Imam Tunny kemudian meniupkan tiga kali ke dalam guci dari tanah (Salau) yang berisi minyak kelapa sambil mengaduknya. Inilah momen puncak yang dipercaya memasukkan khasiat ke dalam setiap tetes minyak.
Bahan yang digunakan bukan sembarang minyak kelapa. Buku riset IAIN Ambon mencatat bahwa minyak kelapa yang dipakai harus berasal dari kelapa tua yang dagingnya sudah kering dan menghasilkan santan yang banyak.
Ke dalam minyak tersebut ditambahkan buah pala dan cengkeh, lalu semuanya ditempatkan dalam guci dari tanah sebagai wadah ritual.
Perpaduan tiga bahan alami khas Maluku ini bukan kebetulan, pala dan cengkeh adalah rempah yang selama berabad-abad menjadi identitas dan kekuatan Maluku di mata dunia.
Kajian Ilmiah: Apa yang Membuat Nyuwelain Matehu Efektif Secara Medis
Pertanyaan ilmiah tentang Nyuwelain Matehu telah mulai mendapat jawaban yang serius. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Muslim Community Health mengkaji secara kualitatif bagaimana masyarakat Mamala memandang dan menggunakan minyak ini sebagai sistem pengobatan.
Hasilnya: kepercayaan mereka bukan tanpa dasar, pengalaman empiris yang terakumulasi selama generasi membuktikan efektivitasnya dalam menangani kaki patah, tulang patah, penyakit kulit, gatal-gatal, luka bakar, batuk, dan penyakit kulit lainnya.
Secara kimiawi, bahan dasar Nyuwelain Matehu adalah minyak kelapa murni yang kandungannya setara dengan Virgin Coconut Oil (VCO), produk yang kini dijual seharga ratusan ribu rupiah per botol di apotek dan toko kesehatan modern.
VCO telah terbukti secara ilmiah mengandung asam laurat, asam kaprilat, dan asam kaprat yang bersifat antiinflamasi, antimikroba, dan membantu regenerasi jaringan tubuh.
Masyarakat Mamala telah memanfaatkan kandungan ini jauh sebelum dunia farmasi modern mengenalnya dengan nama VCO. Ditambah lagi dengan buah pala dan cengkeh sebagai bahan pelengkap yang juga dikenal memiliki sifat antioksidan dan antiseptik dalam ilmu farmakologi modern.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



