Kedaulatan Farmasi Lokal: Bagaimana Nyuwelain Matehu Menjadi Alternatif Pengobatan di Tengah Mahalnya Biaya Medis Modern
Langkah pertama mereka adalah Nyuwelain Matehu. Dan dalam banyak kasus, langkah pertama itu sudah menjadi langkah terakhir yang mereka butuhkan.
Yang membedakan Nyuwelain Matehu dari sistem pengobatan tradisional lainnya adalah dimensi sosialnya yang kuat. Minyak ini tidak dimiliki oleh satu orang atau satu keluarga untuk kepentingan pribadi.
Ia adalah milik komunitas, dikelola oleh komunitas, dan dikembalikan sepenuhnya untuk kesehatan komunitas. Tidak ada klinik swasta. Tidak ada antrean berbayar. Tidak ada pasien yang pulang dengan tangan kosong karena tidak mampu membayar.
Setiap tahun, dalam perayaan ritual Bakupukul Manyapu masyarakat setempat pada tanggal 8 Syawal, setelah menyelesaikan puasa Ramadhan dan puasa sunnah enam Syawal, Nyuwelain Matehu tampil dalam fungsi paling nyatanya: menyembuhkan luka.
Para peserta yang mengikuti atraksi ritual, di mana seluruh anggota tubuh badan terpecah-pecah dan atau berdarah akibat cambukan lidi aren, keluar dengan luka yang kemudian dioleskan Nyuwelain Matehu. Luka itu mengering dan sembuh tanpa bekas. Bagi masyarakat Mamala, ini adalah ilmu pengetahuan yang mereka warisi.
“Nyuwelain Matehu bermakna kebersamaan sesama manusia tanpa nirlaba. Tidak dapat diperjualbelikan dan dilarang untuk meminta bayaran atas pekerjaan pembuatannya, karena ia adalah milik seluruh masyarakat Negeri Mamala.”Sumber: Buku Bakupukul Manyapu, Komunikasi Ritual Masyarakat Adat Mamala, LP2M IAIN Ambon, 2018
Hak Adat yang Tidak Bisa Digantikan: Siapa yang Boleh Membuat Nyuwelain Matehu
Tidak sembarang orang bisa membuat Nyuwelain Matehu. Menurut tradisi adat yang telah dijaga selama berabad-abad dan didokumentasikan secara akademik oleh Dr. H. Sulaeman dan Drs. Mahdi Malawat dari IAIN Ambon, pembuatan minyak ini harus dilakukan oleh Imam Tunny dan keturunannya, merekalah yang berhak atas adat dan tidak bisa diganti oleh keturunan lain maupun marga lainnya.
Keturunan Imam Tunny di Negeri Mamala bermarga Mony, dan lelaki tertua dari marga Mony menjadi Imam Tunny yang bertugas sebagai penghulu Masjid al-Muhibbin Negeri Mamala.
Di antara anggota marga Mony yang dipercaya membuat minyak ini, ada satu syarat khusus yang tidak bisa diabaikan: pembuatannya harus dilakukan oleh anak gadis dari marga Mony yang belum mendapat haid, masih suci dan bersih.
Simbolisasi hati yang bersih dari orang yang mengerjakan mengandung pesan komunikasi verbal dan nonverbal yakni meniupkan doa pada minyak sebagai inti dari seluruh prosesi.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



