Kaleidoskop Maluku 2025: Merawat Damai, Menjemput Fajar di Atas Jembatan yang Goyah
PENDAPAT
Menjemput Fajar Maluku yang Lebih Tangguh
Kini, saat matahari 2025 mulai condong ke barat, kita bersiap menapaki tahun 2026 dengan wajah yang sarat akan harapan namun tetap waspada. Maluku tidak akan pernah menjadi wilayah yang mudah ditebak; tantangan fiskal mungkin masih membayangi, dan krisis iklim akan terus mengetuk pintu pesisir kita dengan suara pasang yang kian meninggi.
Namun, perjalanan sepanjang tahun ini telah membuktikan bahwa meskipun badai politik dan hukum datang silih berganti, daya lentur (resilience) masyarakat Maluku tetap tak tergoyahkan. Keberhasilan mempertahankan identitas sebagai kota musik dunia serta tumbuhnya gairah ekonomi di tangan anak-anak muda adalah modal sosial yang tak ternilai harganya untuk melangkah ke depan.
Harapan untuk Kota Ambon ke depan adalah menjadi rumah yang kian ramah bagi semua golongan, di mana pembangunan fisik tidak menanggalkan identitas budayanya. Kita merindukan Ambon yang tak hanya bising dengan bunyi pembangunan, tapi juga tenang dalam jaminan keadilan hukum dan kesejahteraan sosial.
Ibukota Provinsi Maluku ini memiliki potensi besar untuk menjadi episentrum kemajuan di Indonesia Timur, asalkan kolaborasi antara pemerintah, komunitas kreatif, dan masyarakat sipil terus dirawat dalam semangat Manggurebe yang jujur dan produktif.
Untuk Maluku secara luas, impian yang terus dipupuk adalah terwujudnya kedaulatan pangan dan kemandirian ekonomi yang berakar kuat pada potensi laut dan daratnya sendiri. Transformasi Maluku menjadi provinsi yang maju tidak boleh meninggalkan mereka yang bermukim di pelosok pulau-pulau jauh.
Pemerataan akses pendidikan, kesehatan, serta penguatan konektivitas antar-pulau harus tetap menjadi prioritas utama. Kita ingin memastikan bahwa di tahun-tahun mendatang, tak ada lagi warga yang merasa menjadi “anak tiri” di atas tanah kelahirannya sendiri yang sesungguhnya kaya akan rempah dan berkah.
Mari kita jelajahi 2026 dengan semangat Maren yang lebih kuat. Semoga musik kita makin nyaring, laut kita kembali ramah, dan meja makan rakyat kita tetap penuh. Akhirnya, memelihara perdamaian adalah tugas abadi yang harus terus diestafetkan kepada generasi berikutnya.
Di tengah segala kekurangan yang ada, optimisme harus tetap menyala karena Maluku bukan hanya sedang bertahan, ia sedang bertumbuh. Seperti petuah tua yang selalu relevan, “Potong di kuku rasa di daging”; apa pun yang menanti di ufuk timur, Maluku akan tetap berdiri sebagai satu tubuh yang saling menjaga dalam harmoni yang abadi, siap menyongsong fajar dengan penuh keyakinan.(*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



