Kaleidoskop Maluku 2025: Merawat Damai, Menjemput Fajar di Atas Jembatan yang Goyah
PENDAPAT
Ini bukan sekadar sertifikat yang membeku di dalam bingkai kaca di kantor pemerintah, melainkan sebuah pengakuan internasional yang tak main-main. Bagi masyarakat Ambon, musik adalah cara bertahan hidup, cara menyembuhkan luka, dan cara bercerita tentang jati diri.
Predikat ini menjadi legitimasi atas program inovatif seperti Sound of Green, yang secara jenius mengawinkan melodi dengan pelestarian lingkungan, membuktikan bahwa musik telah menjadi instrumen pembangunan berkelanjutan.
Menteri Ekonomi Kreatif pun tak ragu melontarkan pujian, memposisikan Ambon sebagai mercusuar bagi kota-kota kreatif lainnya di Indonesia Timur. Musik di sini bukan lagi sekadar bakat alam yang mengalir di urat nadi, ia telah bertransformasi menjadi identitas pembangunan kota yang utuh.
Klimaks dari narasi musikal ini terjadi pada 30-31 Oktober 2025, saat Amboina International Music Festival (AIMF) kembali digelar dengan tema “Harmony of Nature: Melody of Joy”. Festival ini bukan sekadar panggung hura-hura, melainkan sebuah meja diplomasi budaya yang megah di mana musisi dari Ipoh, Suphanburi, Korea Selatan, hingga Belanda duduk melingkar dalam harmoni yang magis.
Melalui forum Asia’s Music Cities, Ambon menegaskan posisinya sebagai simpul penting dalam jejaring musik dunia. Musisi mancanegara datang dan bersenandung bersama talenta lokal, membuktikan bahwa musik adalah bahasa universal yang paling jujur untuk merayakan perbedaan.
Namun, di balik kegemilangan itu, kritik tetap menjadi bumbu yang mendewasakan; masih ada nada sumbang tentang kurangnya “karpet merah” bagi para pegiat seni di gerbang bandara. Meski demikian, gema musik Ambon telah terlanjur melesat jauh melampaui batas samudera, menyentuh pelosok dunia dengan pesan perdamaian yang elegan.
AIMF 2025 berhasil mengirimkan pesan kuat: bahwa dari sebuah kota di Timur Indonesia, keragaman bisa dirayakan lewat nada. Musik telah menjadi ruh yang menghidupkan pariwisata, memperkuat gairah UMKM, dan yang paling fundamental, menyatukan masyarakat dalam satu irama persaudaraan.
Ambon 2025 adalah sebuah orkestra besar yang tak pernah padam. Di penghujung tahun, kota ini tidak hanya bernyanyi untuk dirinya sendiri; ia sedang bersenandung untuk dunia, membawa pesan bahwa di sini, setiap detak jantung adalah nada, dan setiap langkah adalah melodi perdamaian yang abadi.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



