Kaleidoskop Maluku 2025: Merawat Damai, Menjemput Fajar di Atas Jembatan yang Goyah
PENDAPAT
Merawat Perdamaian: Tradisi sebagai Jangkar
Perdamaian di Maluku sepanjang 2025 terasa seperti udara: tak selalu terlihat, namun vital. Ketegangan yang sempat muncul, seperti insiden yang melibatkan oknum warga Negeri Hitu dan berdampak pada pemukiman di Negeri Hunuth, menjadi pengingat bahwa harmoni di Maluku selalu membutuhkan perawatan.
Begitu juga dengan beberapa “letupan” lainnya di Kota Ambon maupun Pulau Ambon. Atau juga pada kabupaten kota lainnya di Maluku.
Namun, di balik riak konflik, kearifan lokal kembali menunjukkan daya tahannya. Mediasi di berbagai ruang, sebagaimana diberitakan potretmaluku.id dan sejumlah media lain di daerah ini, menegaskan bahwa akar persaudaraan Pela Gandong masih kokoh. Sasi, Maren, dan musyawarah adat kembali menjadi sarana memulihkan luka.
Menariknya, 2025 juga memperkaya diskursus perdamaian secara intelektual. Gagasan Perpetual Peace Immanuel Kant disandingkan dengan sejarah Hatuhaha sebagai contoh federasi damai lokal. Publik diajak menyadari bahwa Maluku memiliki cetak biru perdamaian yang lahir jauh sebelum teori Barat berkembang.
Institusi keagamaan tetap memainkan peran sentral. Gereja Protestan Maluku yang merayakan usia ke-90 menegaskan kembali komitmennya pada stabilitas sosial.
Pesan persatuan juga menguat pada peringatan Sumpah Pemuda, ketika komunitas lintas iman dan etnis duduk bersama, tak hanya dalam seremoni, tetapi dalam keseharian yang cair di ruang-ruang publik.
Tahun ini mengajarkan bahwa perdamaian bukan sekadar ketiadaan konflik, melainkan kesediaan untuk mendengar dan belajar. Luka masa lalu tak sepenuhnya hilang, namun justru menjadi pengingat untuk lebih waspada menjaga rumah bersama.
Anak Muda dan UMKM: Gairah dari Episentrum Rabu-Rabu Market
Ambon di tahun 2025 bukan lagi sekadar kota administratif yang kaku; ia telah bersalin rupa menjadi laboratorium kreatif bagi anak-anak mudanya.
Di bawah langit kota yang tak pernah benar-benar tidur jika bicara soal kreativitas, Rabu-Rabu Market (RRM) telah bertransformasi dari sekadar pasar kaget mingguan menjadi episentrum ekonomi kreatif yang paling berdenyut.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



