Sempat kami mendirikan shelter karena di tengah perjalanan tiba-tiba datang badai. Sehingga kami putuskan untuk membuat folder tempat berlindung agar segera masuk.
Semua memakai alat pengaman sendiri. Setelah 30 menit, badai berlalu. Akhirnya pendakian bisa kita lanjutkan.
Pendakian di Gunung Rinjani ini saya perkirakan, 60% berasal dari mancanegara.
Sangat disayangkan, saat badai tidak ada penanganan. Bahkan Tim SAR, yang jumlahnya 3 orang, mungkin karena kelelahan hanya tidur.
Setelah itu kami mulai melangkah ke Puncak Dewi Anjani.

Medan di sini cukup sulit karena berbatu dan berpasir. Kalai kami melangkah satu langkah, malah turun 1 meter. Tidak naik, malahan turun.
Jadi betul-betul saya sebagai leader perlu memperhatikan kondisi semua anggota tim.
Kami memakai webbing sling, yakni pita datar terbuat dari anyaman untuk menarik kita yang ada di bawah agar tidak terperosok. Dan harus dipastikan yang kita injak itu kokoh dan kuat.
Walau kami melangkah satu demi satu, akhirnya, alhamdulillah, bisa sampai ke Puncak Dewi Anjani.
Saat mencapai puncak itu, saya menggendung anak kami, menaruhnya di bagian depan. Anak-anak kami yang lain terlihat senang, karena serasa dekat sekali dengan awan.
Kami tak henti-henti menyebut asma Allah, sebagai rasa syukur bisa merasakan salah satu kuasa dan karunia Tuhan di bumi pertiwi. (*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



