CitizenPendapat

Dapat Berlayar Karena Istri Pejabat

SUARA WARGANET

 

“Alam menciptakan kemampuan. Keberuntungan melengkapinya dengan kesempatan.”(Francois de la Rochefoucauld, penulis berkebangsaan Prancis).

Pengalaman saya berbeda dengan kasus pasien pada ambulance, dimana “diduga” feri penyeberangan di Waipirit (sebuah desa di Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku), belum dapat bertolak mengangkutnya, lantaran menunggu seorang istri pejabat.

Saat diposting kasus ini di facebook, akhirnya memantik reaksi para nitizen yang memprotes, lantaran angkutan penyeberangan seharusnya memprioritaskan pasien ketimbang istri pejabat. Pihak yang “tidak kebakaran jenggot” pun ikut “kebakaran jenggot” dengan tampil membela melalui klarifikasi di facebook, tanpa diketahui motif pembelaannya apa.

Pada 5 Mei 2021 lalu bersama sopir saya, kami menuju Hunimua. Sebelumnya ia telah tiba sekitar jam 11 siang di kediamannya saya.  Awalnya saya agak ragu akan ada feri yang berlayar ke Pulau Seram, sehingga tidak mengontaknya pagi-pagi sekali. Hal ini dikarenakan pelarangan mudik sejak 6 hingga 17 Mei 2021 oleh Pemerintah.

Tatakala tiba di dermaga penyeberangan Hunimua di kawasan Liang, pegawai ASDP setempat mengatakan kepada sopir, ada kemungkinan ini feri terakhir yang kita layari, karena tidak akan ada lagi feri yang balik. Tapi saya katakan pada sopir, kita berangkat saja, tanpa mempedulikan ucapan pegawai ASDP itu.

Tiba di Waipirit pukul 13 siang, sopirnya ngebut bawa mobil layaknya “superman” di tengah jalan yang sepi, akibat pelarangan pemerintah untuk mudik. Pada hari sebelumnya jalanan trans Seram menuju Masohi ramai oleh kendaraan roda dua dan empat. Kesempatan ini memuluskan jalan kita untuk menjemput istri dan anak-anak saya.  Di tengah jalan di Desa Wasia kita dihentikan oleh Satpol PP dan Polisi dari Maluku Tengah, menanyakan tujuan kita, dan kita katakan hanya menjemput keluarga.

Kata aparat, jika mudik tidak diperkenankan meneruskan perjalanan, dan dipaksa harus balik arah oleh mereka. Pukul 14.45 kita pun sampai di Masohi. Perjalanan balik ke Waipirit tidak sekencang ke Masohi, saat di Negeri Latu kita banyak bercerita, sopir pun memperlambat jalannya mobil layaknya kita hendak piknik. Tapi feeling saya harus mempercepat laju mobil, dan saya katakan dalam dialeg Malayu Ambon, “jang talalu bacarita jalan capat sadiki biar katong dapa feri, karena pegawai ASDP bilang kalo ada feri bale itu hanya sampe jam 18.00.”

Ternyata benar, sesampainya di Waipirit pukul 18.00 hanya satu feri saja yang nampak di pelabuhan. Hanya saja saat sopir membelikan tiket, pegawai ASDP di loket mempersilakan. Itu pertanda ada harapan untuk kita berlayar menuju Hunimua di Pulau Ambon. Rupanya sopir penasaran, hanya mobil kita yang diparkir untuk menunggu naik ke feri, tapi belum dipersilahkan naik. Kata pegawai ASDP “lagi tunggu ibu pejabat”, saya tidak perlu membeberkan istri pejabat itu siapa, karena saya kuatir akan menjadi bahan pencitraan oleh mereka, biar saja saya sebut istri pejabat secara global.

Kata pegawai ASDP “kalo ibu pejabat deng oto dua atau tiga itu berarti kamong seng jadi nai.” Kata saya bercanda tapi serius kepada istri saya, “umi berdoa mudah-mudahan beso abi jadi pejabat, biar umi bisa seperti ibu pejabat kamana-mana dong prioritaskan.” Pikiran saya jika kita tidak bisa naik feri karena ibu pejabat dengan dua atau tiga kendaraan berarti kita sekeluarga harus balik dan rayakan lebaran di Masohi.

Tapi ternyata mobil yang ditumpangi ibu pejabat itu hanya satu yang naik ke feri, dan bukan dua atau tiga mobil seperti yang dikatakan pegawai ASDP. Akhirnya kita sekeluarga dapat naik ke feri dengan mobil, dimana tak lama berselang ada dua mobil turut naik ke feri. Kita pun berlayar dan tiba di Hunimua karena “keberuntungan” menunggu istri pejabat yang naik feri, jika saja tidak ada istri pejabat mungkin saja kita sekeluarga sudah balik ke Masohi, dengan perasaan “kecewa besar”. Tapi bagi saya itu bukan saja karena istri pejabat, namun kehendak Yang Maha Kuasa memuluskan jalan kita sekeluarga untuk tiba ketempat tujuan.

M.J. Latuconsina


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button