Amboina

Daeng Lawa Asal Takalar, sejak Kecil Kerja di Warung Coto Makassar (Bagian 1)

“Kami saat itu tinggal berempat, sesama pekerja di warung Coto Makassar. Ada yang bekerja sebagai pencuci mangkuk, pengantar air minum ke pembeli, dan juga sebagai pelayan,” terang Daeng Lawa.

Sebagai pelayan, tugasnya mengantar coto sesuai pesanan pembeli. Jadi, dia akan datang menghampiri pembeli begitu si pembeli duduk, lalu menanyakan apa yang akan dipesan. Setelah itu, dia juga yang mengantar pesanan coto tersebut ke pembeli.

Menurutnya, bekerja sebagai pelayan ini tinggi risikonya. Dia mesti cermat mengingat pesanan setiap pembeli. Pasalnya, tidak semua pembeli memesan coto dengan isi mangkuk yang sama.

Masing-masing memesan sesuai seleranya. Ada yang pesan campur, ada yang hanya daging, ada yang daging dan paru, dan lain-lain varian. Kalau salah, dia akan kena marah.

“Pernah itu bosku, mau na tusuk mataku. Dia bilang, kutokdo matanna garpu anne,” katanya, meniru kalimat bosnya yang menggunakan bahasa Makassar, sambil memperagakan tangan yang memegang garpu.

Daeng Lawa menjelaskan, di kantin tengah itu terdapat meja-meja yang diberi nomor sebagai tanda, sekaligus untuk membantu mengidentifikasi pesanan.

Kebetulan, pada hari itu lagi ramai pengunjung. Saat dia membawa semangkuk coto ke salah seorang mahasiswa, dia pun bertanya, apakah itu pesanannya. Si mahasiswa yang ditanya mengiyakan, padahal bukan.

Naik Posisi Sebagai Pengiris Daging

Dia bekerja di warung Coto Makassar di kampus UMI itu, kurang lebih setahun. Lantas dia kembali ke Takalar untuk bersekolah. Dia sempat bersekolah di kelas 4, selama sebulan, lalu berhenti lagi.

Gurunya, Daeng Pani, kemudian ke rumahnya, mengajaknya supaya kembali bersekolah. Dia menuruti permintaan gurunya dengan bersekolah di SD yang sama sampai kelas 6. Namun, sebelum tamat, dia putuskan berhenti sekolah. Kali ini, alasan biaya. Dia tidak sanggup membayar biaya sekolahnya.

“Segala sesuatu dibayar, orangtuanya tidak mampu. Jadi orangtuaku bilang, lebih baik berhenti sekolah,” papar Daeng Lawa mengenang keputusan yang diambil saat itu.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button