Daeng Lawa Asal Takalar, sejak Kecil Kerja di Warung Coto Makassar (Bagian 1)

Tak lama berselang, dia diajak oleh Haji Se’re ke Kabupaten Sidrap untuk bekerja pada warung Coto Makassar miliknya. Warung Coto Makassar milik Haji Se’re berada di Jalan Poros Parepare.
Haji Se’re ini berasal dari Bonto Panno, Desa Paddinging, sama dengan Daeng Lawa. Di sini, harga semangkuk Coto Makassar adalah Rp18.000, belum termasuk ketupat.
Pada awal bekerja di Sidrap, posisinya sebagai pelayan. Begitu selesai menjual, warung ditutup. Mereka lantas membuat bumbu coto untuk keperluan esok hari.
Daeng Lawa ikut juga membuat bumbu, mulai dari bumbu di-paberek (bahasa Makassar, maksudnya menghaluskan atau memblender bumbu), digoreng, hingga dicampur.
Tantangan bekerja di bagian bumbu ini, kata Daeng Lawa, pada saat menggoreng bumbunya. Dia mesti bisa perkirakan lamanya, yakni selama 2 jam.
“Kalau mendidih, itu yang sulit karena bumbunya berlompatan saat panas. Jadi bumbu itu digoreng hingga naik minyaknya, baru selesai,” cerita Daeng Lawa berbagi pengalaman.
Setelah bekerja di warung Coto Makassar di Sidrap, selama 20-an tahun, dia putuskan berhenti, untuk pulang kampung ke Paddinging.
Namun, situasi tidak bersentuhan dengan warung Coto Makassar ini, ternyata tidak lama. Lagi-lagi dia mendapat tawaran bekerja di warung coto. Kali ini, dia diajak Daeng Toto ke Sengkang, Kabupaten Wajo. Ajakan dari Daeng Toto ini pun dia iyakan. Di warung ini, semangkuk Coto Makassar dipatok seharga Rp19.000.
Daeng Lawa bercerita, dia sering pulang kampung, dan memutuskan keluar dari tempat kerjanya, karena sudah tidak sesuai lagi dengan hatinya. Alasan lain, karena sesama pekerja saling cemburu.
Ada yang iri hati, lalu mengarang-ngarang cerita agar dia tidak disukai. Suasana yang tidak lagi nyaman itu, membuat dia terpaksa berhenti bekerja lalu putuskan untuk pulang kampung.
Di warung Coto Makassar milik Daeng Toto ini, posisinya naik, menjadi tukang iris daging. Katanya, daging coto itu ada dua macam, yakni daging beku dan daging murni. Kalau daging beku, 1 kg bisa dapat 7-8 mangkuk. Sedangkan kalau daging murni, sedikit lebih banyak karena bisa dapat 9 mangkuk untuk setiap 1 kg.
Daging sapi yang sudah dimasak, kemudian diiris berbentuk miring. Sebagai orang yang dipercaya mengiris daging, tangannya mesti cekatan menggunakan tajam pisau.
Tangan kanannya mengiris, sementara yang kiri menahan daging itu dengan gargu agar tidak terpental. Untuk semangkuk coto, isinya 9-10 potong daging. Kalau pelanggan meminta paket campur, maka itu terdiri dari daging, babat, jantung, hati, dan usus.
Masing-masing isinya hanya 1 atau 2 potong. Pilihan-pilihan paket ini sesuai selera pelangga, bisa berupa kombinasi daging paru, otak, lidah, pipi, atau lainnya. (Bersambung)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



