Telusur Sejarah

Catatan Perjalanan: Napak Tilas Onderneming Land Jasinga*)

Telusuri Jejak Tarumanegara, Tuan Tanah Jonathan Rigg dan Makam Kuno Islam Garisul di Jawa Barat

Dari segi iluminasi yang terdapat dalam batu nisan itu, juga dapat diketahui penggolongan keyakinan atau kepercayaan mereka. Ada yang beragama Islam, ada juga yang kemungkinan beragama Kristen, bahkan ada juga yang beragama Yahudi serta agama lainnya, seperti Hindu dan Buddha.

Pada masa itu memang wajar keahlian pahat sedang berkembang dengan corak surya (matahari) atau sulur tanaman dan bunga (sekar). Bahkan, dari sisi iluminasinya dapat diketahui juga, mana makam sosok laki-laki dan mana makam untuk sosok perempuan.

Kedua, Epigrafi/Inskripsi dalam Batu Nisan. Hanya makam dengan batu nisan yang besar saja yang memiliki epigrafi atau inskripsi. Baik nisan berbentuk gada (laki-laki) maupun pipih (perempuan), bila ukurannya lebih besar, maka dipastikan pada bilah atau sekelilingnya terdapat inskripsi atau tulisan.

Inskripsi itu mencakup nama sosok yang dimakamkan, gelar dan tahun kewafatan. Tahunnya sendiri bervariasi, ada yang menggunakan tahun Arab (Hijriah), Masehi dan Jawa (Saka). Oleh sebab itu, kita harus bisa mengkonversi tahun-tahun tersebut.[12]

Huruf dan bahasa yang dipergunakan dalam batu nisan juga sangat unik. Meskipun kawasan Jasinga ini berbahasa Sunda, tetapi semua inskripsi itu menggunakan bahasa Jawa sawareh alias bahasa Jawa Serang (Jaseng). Sebagai orang Indramayu, Penulis sangat dekat dengan bahasa ini yang sama dengan bahasa Dermayu. Apalagi, ibu Penulis pun berasal dari Banten, yang pindah ke Indramayu pada masa pendudukan Jepang (1942).

Ketiga, Lokasi Makam. Keletakan makam semuanya menghadap ke barat (kiblat). Baik makam yang ada di bagian atas maupun yang ada di bagian bawah, semuanya membujur dari utara ke selatan, dengan muka kepala jenazah menghadap ke barat atau kepala jenazah ke arah utara sedangkan kaki menghadap ke arah selatan. Termasuk makam yang ditengarai beragama lain, seperti Kristen dan Yahudi.

Yang terbilang unik juga adalah formasi undakan yang terdiri dari beberapa undakan (terassforming). Bila dilihat dari pintu masuk, maka posisi makam itu seolah terbagi menjadi beberapa undakan.

Lahan seluas 3.000 meter persegi itu menampung sekitar 2.000 makam yang tersusun secara berhimpitan. Relatif tidak ada jarak antar satu makam dengan makam lainnya. Bila tidak ada penanda sekeliling berupa batu-batu kali dan juga batu nisannya, maka pengunjung tidak akan mengetahui batas-batas tiap makam.

Akibat Politik Devide Et Impera Kolonial Belanda, Demang Karta Nata Negara Kontra Nyimas Gamparan

Sebagai Onderafdeeling, Jasinga dipimpin oleh seorang Demang alias Hoofd van Platselijk Bestuur (HPB). Pada masa Tuan Tanah (Landheer) Jonathan Rigg, telah terjadi beberapa kali penggantian Demang Jasinga.

Nama Demang pada tahun 1830-1836 adalah Raden Karta Nata Wiredja. Nama Demang sebelum itu adalah Raden Karta Nata Negara (1790-1879) yang kemudian menjadi Bupati Lebak (1837-1865) bergelar Raden Adipati Karta Nata Negara.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5 6 7Next page

Berita Serupa

Back to top button