Telusur Sejarah

Catatan Perjalanan: Napak Tilas Onderneming Land Jasinga*)

Telusuri Jejak Tarumanegara, Tuan Tanah Jonathan Rigg dan Makam Kuno Islam Garisul di Jawa Barat

Meskipun pasarean ini dianggap merupakan komplek pemakaman terbesar di Jawa Barat, namun perhatian peneliti belum sepenuhnya tertuju ke lokasi ini. Untungnya, ada dua mahasiswa Universitas Indonesia yang telah melakukan kajian terhadap Keramat Haji Syarif di Garisul ini.

Mereka adalah Mohammad Thoha Idris dan Luqman Hakim. Sayangnya, akses ke sumber referensi mereka juga telah tertutup. Satu-satunya cara, adalah dengan membaca tulisan mereka dalam bentuk buku secara langsung di Perpustakaan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia, Depok.[10]

Beberapa teori menyebutkan, bahwa (i) komplek pemakaman ini merupakan komplek pemakaman terkait Kesultanan Banten. Dikatakan, bahwa ini adalah lokasi pemakaman prajurit Kerajaan Pajajaran dan Kesultanan Banten yang pernah berperang di perbatasan.

Ada sumber lain yang menyebutkan, bahwa (ii) ini adalah lokasi pemakaman para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia yang gugur saat bertempur dengan pasukan militer Belanda. Teori lain menyebutkan, bahwa (iii) ini adalah lokasi pemakaman anggota pasukan khusus Nyai Mas (Nyimas) Gamparan, yang menolak penerapan Tanam Paksa (Cultuurstelsel) pada 1829-1830 di Banten.

Inilah yang disebut Perang Cikande (1828-1839). Penulis sendiri meyakini, bahwa (iv) lokasi Keramat Haji Syarif ini adalah pemakaman Sultan Muhammad Syafiuddin, Sultan Kesultanan Banten beserta rombongan yang menyertainya.[11]

ONDERNEMING LAND JASINGA

Keyakinan Penulis itu didasarkan pada beberapa alasan, berikut ini:
Pertama, Bentuk Batu Nisan. Batu nisan yang terdapat dalam Pemakaman (Pasarean) Keramat Haji Syarif atau Makam Raja-Raja Islam Garisul, Jasinga ini memiliki kesamaan dengan nisan yang ada di Pemakaman Raja-raja Aceh dan Pemakaman Banten Lama.

Nisan berbentuk gada menunjukkan bahwa sosok yang terkubur adalah seorang lelaki, sedangkan berbentuk pipih adalah makam seorang perempuan. Bentuk silindris dan oktagonal (delapan sisi) biasa dipakai oleh makam-makam di kedua lokasi tersebut.

Begitu juga dengan keletakannya, posisi makam yang berada pada bagian atas itu menunjukkan strata sosial yang lebih tinggi. Hal ini juga didukung oleh besar-kecilnya batu nisan yang dipergunakan.

Secara berjenjang, dapat dikatakan, bahwa batu nisan yang ukuran paling kecil itu menandakan makam sosok masyarakat biasa alias prajurit; yang lebih besar lagi adalah perwira; sedangkan yang paling besar adalah panglima.

Makam yang terpisah di bagian atas menunjukkan sebagai orang yang paling dihormati. Makam itu berada pada satu lokasi, terpisah dari makam-makam lainnya.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5 6 7Next page

Berita Serupa

Back to top button