Telusur Sejarah

Catatan Perjalanan: Napak Tilas Onderneming Land Jasinga*)

Telusuri Jejak Tarumanegara, Tuan Tanah Jonathan Rigg dan Makam Kuno Islam Garisul di Jawa Barat

Tulisan catatan perjalanan Eka Kusumayadi dan komunitasnya itu diberi judul “Mengenal Lebih Dekat Benda Bersejarah di Bogor Barat”. Tulisan itu menjadi salah satu referensi.

Eka Kusumayadi menggambarkan makam raja-raja Garisul dalam tujuh paragraf. Begitu juga foto pendukung yang dicantumkan terkait hal ini pun sebanyak tujuh buah.

Dua foto saat masuk ke kawasan, sebuah foto Sungai Cidurian, foto papan nama BCB dan tiga foto terkait batu nisan dari Makam Raja-raja Garisul yang berupa gada dan pipih. Secara Toponimi, Garisul sendiri merupakan singkatan dari “Garis Sultan” alias keturunan sultan. Sultan yang dimaksud disini adalah Sultan Banten.

Jasinga adalah “Jayasingha”, Mandalagiri Tarumanegara

Menurut beberapa sumber tertulis, nama asli Jasinga adalah Jayasingha. Tim Penyusun Naskah Pangeran Wangsakerta dalam Kitab “Pustaka Kretabhumi” Parwa 1 Sargah Pertama menyebutkan, bahwa nama ini merupakan nama pendiri Kerajaan Tarumanegara, yaitu Jayasinghawarman Rajadiraja Guru (358-382).

Jayasinghawarman merupakan menantu Dewawarman VII (340-362), salah seorang raja atau tepatnya raja kedelapan Kerajaan Salakanegara (Calankayana). Sedangkan nama ibukotanya adalah Jayasinghapura. Lokasinya di dekat sebuah sungai.[2]

ONDERNEMING LAND JASINGA

Jan Frederik Gerrit Brumund yang menjadi pendeta pertama di Protestantse Gemeente te Malang (31 Oktober 1861) yang juga pakar Hinduisme Jawa, juga menyebutkan dalam beberapa halaman bukunya, “Bijragen tot de kennis van het Hindoeisme op Java” terkait penemuan arca-arca Hindu dan Budha yang terbuat dari batu andhesit di kawasan Jasinga. J.F.G. Brumund yang biasa berkeliling Land Koeripan, Land Jasinga dan Land Leuwiliang, kemudian menyimpulkan, bahwa Jasinga tidak lain adalah toponimi dari Jayasinghawarman itu.

Penemuan arca-arca di Jasinga dan Ciampea itu membuktikan dua hal: pertama, sudah ada agama Buddha di kawasan ini, dan kedua, keahlian pahat batu sudah berkembang di kawasan ini.

Bahkan, pada masa Kerajaan Tarumanegara, meski dalam jumlah yang tidak besar, kelompok agama Buddha telah ada di ibukota Kerajaan, yaitu Jayasinghapura itu.

Mereka terkonsentrasi di Pasiran Sinala atau Pasiran Silanang alias Bukit Cibodas Ciampea. Di beberapa lokasi dengan topografi bukit (pasiran), juga ditemukan arca-arca dalam kondisi berbeda.[3]

Bahkan, menurut Pendeta Brumund, Jayasingha atau lengkapnya Jayasinghapura merupakan lokasi Mandalagiri bagi penganut agama Buddha.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5 6 7Next page

Berita Serupa

Back to top button