Catatan Perjalanan: Napak Tilas Onderneming Land Jasinga*)
Telusuri Jejak Tarumanegara, Tuan Tanah Jonathan Rigg dan Makam Kuno Islam Garisul di Jawa Barat

Pada masanya, kawasan Pasiranmuhara (Pasir Muara) pernah dijadikan sebagai perkebunan kopi.
Oleh sebab itu, kawasan ini kemudian dikenal sebagai Kebon Kopi. Saat prasasti batu tulis Tapak Gajah ditemukan di kawasan ini pada 1863, maka namanya pun awalnya disebut sebagai Prasasti Kebon Kopi. ]
Ada beberapa peninggalan Kerajaan Tarumanegara dan khususnya vasal Pasiranmuhara yang masih terpelihara hingga kini. Di antaranya Prasasti Tapak Kaki Purnawarman, Prasasti Tapak Gajah, Prasasti Pasiranmuhara dan benda tinggalan lainnya.[8]
Kamus Sunda-Inggris yang disusun oleh Jonathan Rigg itu memakan waktu selama sebelas tahun (1843-1854). Sedangkan diperlukan waktu selama sembilan tahun kemudian untuk bisa dicetak (1862).
Artinya hampir selama dua dekade, Kamus Sunda-Inggris pertama di dunia itu belum dapat dinikmati oleh masyarakat sebelum akhirnya menjadi sebuah magnum opus yang mendongkrak prestise orang Sunda.
Padahal sebelumnya, bahasa Jawa seolah menjadi bahasa resmi para pejabat Hindia-Belanda, termasuk di Buitenzorg (Bogor) khususnya Jasinga. Setelah kamus itu terbit, bahasa Sunda yang selama ini dipandang sebagai bahasa orang Jawa gunung (bergjavaans) pun kemudian menjadi kebanggaan orang Sunda.
Secara singkat, isi dari Kamus Sunda-Inggris yang disusun di Land Jasinga ini dapat diterangkan sebagai berikut: tebal buku Kamus ini terdiri atas “Preface” sebanyak 12 halaman Romawi (xii), lema setebal 537 halaman, dan “Errata” di bagian belakang sebanyak 5 halaman Romawi (v). Lem yang dimuat sebanyak 9.308 buah, dengan lema K yang terbanyak (1.034), kemudian S (946 lema), P (937 lema), dan yang paling sedikit adalah Y (16 lema). Pada halaman judul terdapat semacam persembahan, yang berbunyi: “Beunang guguru ti gunung, beunang nanya ti Guriang (I have been taught it among the mountain, I have enquired after it from the mountain spirit)”.
Menelisik Makam Kuno Islam “Garisul” di Jasinga
Kini, tidak ada satupun catatan tertulis Belanda yang menyebut nama Makam Garisul di Jasinga. Juru potret Belanda Isidore van Kinsbergen yang dikenal sebagai fotografer kawakan dan telah berkeliling Nusantara hingga ke Kepulauan Maluku, sama sekali tidak pernah mengambil foto lokasi ini.
Data-data terkait Makam Garisul yang ada di Leiden University juga mengalami pembatasan (restriction on access) alias access restricted.[9]
Pihak Hindia-Belanda memang pernah menyebutkan Makam Garisul pada 1938 terkait dengan penyelidikan kepurbakalaan Islam di Nusantara (Indonesia) saat itu. Dr. K.C. Crucq dalam buku “Oudheldkundig Verslag Uitgegeven door het Bataviaasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen” disebutkan telah meneliti komplek Keramat Hadji Sarip di Garisul tersebut. Sayangnya, akses ke sumber-sumber Hindia-Belanda itu juga telah tertutup.
Beruntung, Drs. Uka Tjandrasasmita menyebutkan hal itu dalam makalah “Riwayat Penyelidikan Kepurbakalaan Islam di Indonesia” pada 1992. Makalah ini dimuat dalam buku “50 Tahun Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional 1913-1963” yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas), Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 1992. Ada 10 makalah yang dimuat dalam buku ini, di antaranya ditulis oleh A.S. Wibowo, R.P. Soejono, Soediman, I Made Soetaba dan Hadimuljono.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi




