Foto-foto lama yang dipamerkan, sebagian besar telah melalui proses restorasi digital, membuka kembali ruang-ruang kota yang nyaris menghilang dari ingatan kolektif.
Pantai Rumah Tiga yang sunyi, kawasan Batu Gajah dengan hamparan hijau, kelas sekolah di Galala dengan murid-murid berseragam rapi, hingga pose nona-nona Ambon tahun 1920-an yang menampilkan gaya dan martabat zamannya.
Melihat foto-foto ini, kita diingatkan bahwa kota bukan hanya kumpulan bangunan, melainkan himpunan kebiasaan, relasi sosial, dan cara hidup yang diwariskan lintas generasi.
Ingatan tentang kota itu menguat dalam sesi bincang santai bertajuk “Amboina dari Masa ke Masa”, yang menghadirkan jurnalis senior Novi Pinontoan.
Dengan gaya bertutur yang cair dengan dialeg Ambon yang kental, Novi membawa audiens menelusuri Ambon beberapa dekade silam, masa ketika internet belum dikenal, angkutan kota belum ada, tetapi listrik sudah menerangi malam-malam kota kecil itu.

Kala itu, secara administratif, Kota Ambon hanya seluas sekitar empat kilometer persegi. Sebuah kota yang bisa dijelajahi dengan berjalan kaki, tempat orang saling mengenal, dan perjumpaan terjadi tanpa sekat. Banyak sudut kota yang kini lenyap, tak lagi meninggalkan jejak fisik. Yang tersisa hanyalah cerita.
Bagi generasi muda yang memenuhi ruang diskusi, kisah-kisah itu terasa seperti membuka pintu ke dunia lain. “Setiap sudut kota menyimpan sejarah yang dalam dan nyaris hilang jika tidak diceritakan,” tutur Novi.
Ia menegaskan bahwa kemanisan Ambon tidak hanya terletak pada alam dan keramahan warganya, tetapi pada cara hidup yang sejak dulu terbiasa berbagi ruang tanpa memandang perbedaan.
Dulu dan Kini: Kota yang Bergerak
Narasi itu menemukan pantulannya dalam karya-karya yang dipamerkan. Salah satu kekuatan utama Cahaya dari Masa terletak pada praktik penyandingan visual: lukisan atau foto kolonial diletakkan berdampingan dengan sketsa atau foto masa kini.
Pendekatan ini tidak bertujuan menghakimi masa lalu atau mengagungkan masa sekarang, melainkan membuka dialog antarwaktu.
Kawasan AY Patty, misalnya, yang dahulu dikenal sebagai pusat Pecinan Ambon, kini tampil sebagai ruang urban modern dengan fungsi yang berubah, namun denyut ekonominya tetap hidup. Pasar Ambon, dari masa ke masa, terus menjadi titik pertemuan berbagai etnis dan latar belakang sosial.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



