AmboinaMaluku

Cahaya dari Masa: Arsip, Sketsa, dan Percakapan Antar Generasi di Maluku

Dari sekitar tiga puluh foto restorasi, tiga puluh sketsa, dan sejumlah foto lepas yang dipamerkan, tampak jelas wajah Ambon sebagai kota heterogen. 

Jauh sebelum 1950-an, kota kecil ini telah menjadi ruang perjumpaan: pedagang, nelayan, pekerja pelabuhan, pemusik, perempuan pasar, warga asal dan anak-anak sekolah hidup berdampingan dalam ritme yang saling terkait.

Permukiman Batu Merah memperlihatkan transformasi serupa. Lukisan lama menghadirkan suasana pesisir yang lapang dan tenang. Foto terkini yang dibuat fotografer Tiara Melinda A.S, menunjukkan kawasan yang lebih padat, hidup, dan kompleks. Perubahan ini bukan sekadar urbanisasi, melainkan cermin dari dinamika sosial yang terus berlangsung.

Situs-situs sejarah seperti Benteng Nieuw Victoria dan Benteng Belgica di Banda Neira hadir sebagai pengingat relasi kuasa di masa lalu. Namun dalam konteks pameran ini, benteng-benteng itu dibaca ulang sebagai ruang pembelajaran, bukan semata monumen kolonial.

Jika foto kolonial merekam masa lalu, maka sketsa-sketsa kontemporer adalah suara hari ini. Garis-garisnya cepat, kadang goyah, sering kali tidak rapi. Justru di situlah letak kejujurannya.

Para pegiat urban sketching yang terlibat tidak berusaha menggambar Ambon dan Maluku secara “indah”. Mereka menggambar apa yang mereka lihat dan rasakan: Jembatan Merah Putih yang membentang di atas Teluk Ambon, baileo di Siri Sori Sarani sebagai pusat adat, masjid dan gereja yang berdiri berdampingan di daerah Hila dan Kaitetu (Pulau Ambon), hingga aktivitas sehari-hari warga kota.

cahaya dari masa
Para narasumber saat berbagi cerita di pameran Cahaya dari Masa.

Sketsa juga merekam hal-hal yang jarang masuk arsip resmi: Mama Papalele, jibu-jibu penjual ikan keliling, mama penjual ikan asar, pemusik totobuang, hingga orang-orang yang memroses sagu di hutan. Dalam konteks ini, sketsa berfungsi sebagai catatan etnografis, merekam hubungan manusia, ruang, dan ingatan secara langsung.

Belajar Melihat Lewat Garis dan Piksel

Ruang perjumpaan itu berlanjut pada hari kedua pameran. Sesi diskusi menghadirkan Ketua Komunitas Maluku Sketchwalk, Jerry SAL, bersama Almascatie dari Maluku Pedia, seniman yang merestorasi foto-foto dalam pameran ini.

Jerry SAL berbicara tentang sketsa sebagai praktik melihat: melatih kepekaan terhadap ruang, belajar memilih apa yang penting, dan menerima ketidaksempurnaan sebagai bagian dari proses. Sketsa, baginya, adalah bahasa visual yang demokratis, siapa pun bisa memulainya, tanpa harus menunggu mahir.

Sementara itu, Almascatie membawa audiens pada sisi lain dari kerja merawat ingatan: restorasi foto. Ia berbagi pengalaman dan pendekatan teknis dalam menghidupkan kembali foto-foto jadul tanpa menghilangkan jejak zamannya. 


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button