Apa yang tersisa ketika sebuah kota berubah? Pameran Cahaya dari Masa mempertemukan arsip kolonial, foto keluarga, dan sketsa kontemporer untuk menjawabnya, melalui gambar, cerita, dan perjumpaan lintas generasi.
Di ruang pamer itu, waktu seolah melambat. Cahaya lampu jatuh lembut ke atas kertas-kertas tua, foto hitam-putih yang direstorasi, serta sketsa-sketsa dengan garis yang sengaja dibiarkan tak sempurna.
Di hadapan pengunjung, Maluku tidak tampil sebagai wilayah eksotis atau romantik belaka, melainkan sebagai ruang hidup yang terus bergerak, kadang terluka, kadang bertumbuh, selalu menyimpan ingatan.
Pameran bertajuk “Cahaya dari Masa” besutan Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku ini, bukan sekadar perayaan visual. Ia adalah undangan untuk membaca ulang sejarah Maluku melalui gambar: lukisan kolonial Belanda, foto-foto lama yang nyaris pudar, hingga sketsa kontemporer yang digambar oleh tangan generasi hari ini.
Di sini, gambar tidak hanya dipajang, tetapi diajak berbicara dengan pengunjung, dengan masa lalu, dan dengan masa kini.

Pameran ini dibuka oleh Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Maluku, Kasrul Selang, Jumat, 12 Desember 2025. Namun lebih dari seremoni pembukaan, Cahaya dari Masa menjelma sebagai ruang pertemuan ingatan.
Ia mempertemukan arsip kolonial, praktik seni visual masa kini, dan cerita-cerita kota yang nyaris tak lagi terdengar di ruang publik.
Arsip Visual dan Cara Melihat Kota
Sejarah Maluku kerap ditulis dari peristiwa-peristiwa besar: rempah-rempah, jalur dagang dunia, kolonialisme, dan konflik.
Dalam pameran ini, sejarah justru didekati dari fragmen-fragmen yang tampak sederhana: pasar kota, permukiman pesisir, pelabuhan, rumah ibadah, tarian adat, hingga wajah-wajah warga yang menjalani hidup sehari-hari.
Lukisan kolonial Belanda tentang Negeri Wakasihu, Banda Neira, Batu Merah, hingga kawasan Pecinan Ambon memperlihatkan bagaimana Maluku pernah direkam dan dilihat.
Pandangan itu tentu lahir dari sudut pandang kekuasaan, tidak sepenuhnya netral. Namun di baliknya tersimpan detail-detail penting: pola permukiman, ritme aktivitas pesisir, bentuk bangunan, dan hubungan manusia dengan ruang.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



