Restorasi, ia tekankan, bukan soal memoles masa lalu agar tampak sempurna, melainkan menjaga keseimbangan antara kejelasan visual dan kejujuran sejarah.
Menurutnya, proses restorasi dimulai dari membaca foto: memahami konteks, mengenali detail penting, dan menghormati karakter asli gambar. Retakan, noda, atau butiran kasar tidak selalu harus dihapus seluruhnya.
Justru di sanalah usia dan perjalanan sebuah foto berbicara. Teknologi digital digunakan secukupnya, untuk memperjelas, bukan menggantikan.
Diskusi itu kemudian mengalir ke praktik langsung. Peserta, baik yang belum pernah menggambar sama sekali maupun yang sudah terbiasa membuat sketsa, diajak keluar ruang pamer untuk melakukan live sketch di sekitar Lapangan Merdeka Ambon.
Sejumlah seniman sketsa yang karya-karya mereka dipamerkan pada pameran ini, antara lain Revelino Berry, Embong Salampessy, Joner Lakburlawal, dan Allan Thahir terlihat ikut mendampingi para peserta. Bangunan kolonial, pepohonan, monumen, lalu lintas manusia, dan denyut kota menjadi objek gambar.
Beberapa peserta tampak ragu pada awalnya. Namun perlahan, garis-garis mulai muncul di kertas. Tidak ada penilaian, tidak ada koreksi berlebihan. Yang ada hanya keberanian untuk melihat dan mencatat. Di situlah sketsa menemukan maknanya sebagai pengalaman, bukan sekadar hasil akhir.

Rasa, Arsip, dan Teknologi
Pameran ini juga memberi ruang bagi kuliner sebagai bagian dari sejarah hidup. Sketsa papeda dengan ikan kuah kuning, kohu-kohu dengan kasbi rebus, ikan bakar colo-colo, hingga roti Ampas Tarigu tidak hadir sebagai ilustrasi makanan semata. Ia adalah arsip rasa, pengingat bahwa sejarah juga hidup di dapur-dapur rumah dan meja makan keluarga.
Sesi restorasi foto digital membuka percakapan lain tentang pentingnya merawat arsip visual di tingkat personal. Banyak pengunjung datang membawa cerita: foto keluarga, album lama, potret yang nyaris terlupakan.
Dari sini, pameran bergerak dari ruang publik ke ruang yang lebih intim, menjadi pengingat bahwa sejarah besar selalu berawal dari ingatan kecil.
Pada akhirnya, Cahaya dari Masa adalah tentang bagaimana Maluku membaca ulang dirinya sendiri. Arsip kolonial, foto restorasi, dan sketsa kontemporer dipertemukan untuk menunjukkan bahwa sejarah bukan milik masa lalu semata. Ia hidup di ingatan, di cerita yang dibagikan, dan di keberanian untuk terus melihat dengan cara yang lebih jujur.
Di ruang pamer dan di lapangan terbuka, cahaya itu bergerak, dari foto lama ke layar digital, dari piksel ke kertas sketsa, dari cerita generasi tua ke tangan generasi muda.
Karena sejarah, seperti cahaya, tidak pernah benar-benar padam. Ia hanya menunggu untuk kembali diterangi, digoreskan, dan dirawat bersama.(Embong Salampessy)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



