Kemudian munculnya anak-anak muda dengan nyanyian-nyanyian tradisi, seperti karya-karya recycle lagu-lagu tradisi oleh komunitas Hip Hop atau dengan genre yang lain yang mengusung melodi dan syair sebagai pengungkapan jati diri atau identitas budaya Maluku.
Jauh sebelum itu, Christian Izaac Tamaela, telah menjadikan musik tradisi dan lagu-lagu tradisi Maluku diterima secara global; juga Maluku Bamboo Wind Orchestra dari Tuni, di bawah asuhan Rence Alfons pun telah berhasil meningkatkan animo anak muda untuk menguasai instrumen musik tradisi dengan cara modern.
Di Hutumuri, sejak tahun 1990-an, telah muncul kelompok musik Kuli bia/Tahuri yang dimainkan anak-anak SD dan SMP.
Di Amahusu, Nicolas Tulalessy telah memengaruhi anak-anak kecil-remaja untuk memainkan alat musik ukulele dengan slogan “Ukulele Beta Suka”.
Bahkan pada waktu terakhir ini, Branckly E. Picanussa telah menghasilkan beberapa instrument musik dari bambu dan gaba-gaba, sebagai suatu inovasi musik yang mampu menjadi ikon musik tradisi di era modern.
Kedua, musik pop modern juga telah menjadi salah satu bukti semakin tingginya kesadaran bermusik baik di kalangan para pencipta lagu, penyanyi, kelompok Paduan Suara, komunitas musik dari berbagai aliran/genre.
Aholiab Watloly (Bangkitnya Mesin Eksistensi Anak Negeri) justru secara radikal mengatakan, bahwa salah satu ciri masyarakat Maluku adalah musikalitasnya.
Artinya bermusik bukan hanya menjadi karakter atau ciri diri masyarakat melainkan juga suatu simbol perjuangan dan orientasi kehidupan baru.
Bahwa pada musik atau dengan bermusik, orang Maluku atau Ambon bisa mengembangkan tatanan kehidupan diri, keluarga, masyarakat dan bangsa.
Pada sisi itu, karya-karya musik dari orang Ambon, atau para musisi yang berdarah/keturunan Ambon yang berkiprah di blantika musik daerah, nasional dan internasional telah menjadikan diri dan karyanya sebagai kekuatan baru untuk membangun peradaban dalam arti luas.
Latar belakang ini menjadi gambaran empirik yang membuktikan bahwa kesadaran dan budaya bermusik di Ambon semakin berkembang.
Salah satu faktor vital yang turut membentuk pengembangan tersebut adalah budaya bermusik di kalangan masyarakat sebab sebagai kota musik dunia, lingkungan masyarakat harus dapat menampilkan karakteristik sebuah kota musik baik dari segi infastruktur/sarana prasarana, produksi instrumen musik, kemampuan bermusik komunitas, dan pengembangan bidang musik dalam aktifitas sosial-budaya dan keagamaan.(*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



