AmboinaPendapat

Ambon yang Seng Manise dan Belum Layak Anak dan Perempuan

PENDAPAT

Setelah menjelma kota, ia mengubah dirinya menjadi gedung-gedung menjulang, polusi dan polisi, proyek-proyek jembatan dan hutang, kapitalis dan materialis, ia hilang kata humanis. Ambon hilang manis – Candra Henaulu (Ambon, Mei 2018)

Oleh: Dorisco Kainama (Akademisi dan Pekerja Perdamaian di Ambon)


Untuk pembaca,  tulisan ini mengandung unsur traumatis berkaitan dengan kekerasan perempuan dan nak. Jadi jika tidak nyaman dan aman, tolong jangan membaca. Terima kasih. Semangat. 

Pada tahun ini, Kota Ambon mendapat penghargaan Predikat Pratama Kota Layak Anak (KLA), setelah sebelumnya berada di peringkat Madya. Hal ini patut diapresiasi, sembari juga dikritisi. Berdasarkan Pasal 35 Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, No 12 tahun 2022, ada lima peringkat KLA, mulai dari Pratama sampai KLA.

Peringkat Pratama berarti kota/kabupaten mendapat skor 500-600, sedangkan peringkat Madya memperoleh skor 601-700. Peringkat tertinggi adalah KLA memiliki skor 901-1000. Artinya, Ambon masih jauh dari skor predikat KLA. Anak-anak dan perempuan di Ambon masih belum “aman”, atau Ambon belum “layak” bagi anak-anak dan perempuan.

Ini bukan hanya soal angka dan data, melainkan realita bahwa Ambon tidak aman untuk anak-anak dan perempuan.  Setiap tahun selalu ada peningkatan kekerasan terhadap anak dan perempuan, termasuk fenomena anak-anak jalanan di Ambon. Namun, tulisan ini hanya membahas dinamika KLA dan realita kekerasan pada anak-anak utamanya anak-anak jalanan di (pusat)  kota Ambon.

Fenomena anak jalanan di Ambon kembali viral pada pertengahan Agustus lalu pasca seorang netizen membagikan video mereka “ngelem”. Setelah persitiwa ini, Dinas Sosial menghimbau masyarakat agar tidak memberikan uang bagi anak-anak jalanan karena dapat disalahgunakan (Kompas, 16/08/2025).

Menurut penelitian Waruru et al (2023) ada lebih dari 200 anak jalanan yang “dtitanggulangi” oleh Dinas Sosial Kota Ambon. Sayangnya, upaya penanganan anak jalanan masih memiliki kendala seperti minimnya anggaran, ketiadaan peran keluarga (orang tua), dan kurangnya fasilitas Rumah Singgah untuk pemberdayaan anak-anak jalanan.

Untuk memahami dinamika ini, sejak bulan Juli sd November 2025, beta menghabiskan waktu duduk, bercerita, mewawancari, bercanda, termasuk ikut berjualan pisang, nugget, dan jagung bersama anak-anak jalanan di kota Ambon, utamanya di sekitaran Dipenogoro-Urimessing, sekitaran Jembatan Merah Putih-Maluku City Mall, dan sekitaran AY Patty-Lapangan Merdeka.

Hampir tiga puluhan anak-anak, perempuan dan laki-laki, usia 4-15 tahun yang beta temui, bacarita, diskusi, atau hanya sekedar observasi, terkadang sampai pukul 2 pagi. Beta mendapatkan berbagai cerita mengerikan dan menyedihkan yang harus mereka alami dan hadapi, sampai sekarang.

Dari sinilah beta belajar bahwa alasan anak-anak tersebut tidur di jalanan bukan hanya karena faktor (lingkungan) pertemanan, ekonomi keluarga saja, melainkan ada banyak masalah struktural akibat dari kegagalan pembangunan (korupsi) dan berbagai kekerasan struktural dan budaya pada mereka.

Tentu hasil diskusi dan observasi tidak serta merta menjadi “materi akademik” melainkan hanya sebagai bahan refleksi dan evaluasi bersama di akhir tahun. Kemudian, beta membagikan tiga permasalahan utama yang dihadapi anak-anak jalanan yang mengakibatkan mereka harus hidup dan tidur di jalanan.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2 3 4 5Next page

Berita Serupa

Back to top button