Anak-anak perempuan di kampus-kampus di Ambon harus menghadapi resiko diperkosa, dilecehkan verbal maupun fisik, atau pun sekedar diajak bimbingan di Hotel atau rumah dosen. Ada juga mahasiswa melakukan kekerasan kekerasan seksual dengan korban untuk sesama mahasiswi maupun dosen, tapi mahasiswanya tidak dipecat. Sebegitu tidak aman perempuan di Ambon.
Selain itu, kampus-kampus di Ambon justru menjadi arena baku pukul antar mahasiswa. Baik Unpatti, atau UKIM juga sering terjadi baku pukul antar mahasiswa. Artinya, kemiskinan dan rendahnya pendidikan tidak menjadi alasan seseorang berbuat kekerasan atau kejahatan.
Parahnya, sama seperti korupsi yang dinormalisasi, kekerasan pada anak, di jalanan, di rumah, sekolah-sekolah, kampus-kampus, justru dianggap normal.
Padahal situasi lingkaran kekerasan ini sangat abnormal. “Itu kan su dari dolo. Sapa suru dong mo biking ana. makanya perempuan itu jaga pakaian.” Masyarakat menormalisasi kekerasan bagi anak-anak dan perempuan. Ini miris.
Penutup
Tulisan ini tidak bertujuan menjelaskan solusi, sebaliknya berusaha meningkatan kesadaran tentang berbagai masalah struktural yang di hadapi anak-anak, utamanya di jalanan, dan perempuan di Ambon. Penting untuk membahas masalah sebagai langkah awal mencari solusi.
Sayangnya, sekedar “memulangkan” apalagi menyalahkan tidak akan menyelesaikan masalah, jika hal-hal struktural lainnya tidak ditangani, utamanya korupsi dan ketidakadilan sosial.
Karena kalau pun ada Rumah Singgah, tapi bagaiman jika dana pengelolaan juga dikorupsi? Jika keadaan ini terus berlanjut, maka Ambon akan menjadi lebih tidak aman, dan layak bagi anak-anak dan perempuan.
Setiap hari katong akan terus mendapatkan berita-berita kekerasan, fisik, seksual, emosional, yang terjadi bukannya cuma pada anak-anak jalanan, dan dari keluarga miskin, tetapi juga di kampus-kampus, sekolah-sekolah, dan sebagainya. Maka tidak heran seperti yang ditulis oleh Chandar Henaulu, bahwa “Ia (Ambon) hilang kata humanis. Ambon hilang manis.”
Mari kembalikan Manisnya Ambon.(*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



