Meramu Pengetahuan, Merawat Ketangguhan Iklim
Saat Nelayan Maluku Membaca Cuaca dengan Sains dan Nanaku
Yayasan SAHARI mendorong nelayan dan petani pulau kecil Maluku beradaptasi dengan perubahan iklim. Sains, Nanaku dan agroekologi menjadi bagian dari siasat ketangguhan di tengah perubahan alam.
potretmaluku.id -Tangan kiri Suaif menggenggam gawai dengan erat, sorot matanya tajam. Ia duduk bersandar di kursi plastik. Sementara jari telunjuk kanannya menunjukkan peta kecepatan angin pada layar.
Staf BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Ambon itu sedang menuntun nelayan memahami grafik di siang yang teduh, awal Juli 2026. Di hadapannya, lima nelayan duduk melingkar dalam kelompok kecil.
Mata mereka terpaku menatap layar ponsel pintar di tangan Suaif. Suara Suaif terdengar lugas. Jemarinya lincah menggulir layar, lalu setop pada peta gelombang Maluku dengan gradasi warna.
“Kalau warna biru menunjukkan laut dalam kondisi tenang, hijau rendah, dan kuning sedang,” urai Suaif.
“Kemudian warna oranye menandakan gelombang tinggi serta merah menerangkan gelombang sangat tinggi.” Suaif menjelaskan seraya merenggangkan ibu jari dan telunjuknya, memperbesar tampilan Kepulauan Banda.
Nelayan mengangguk khusyuk. Di sekeliling, tiga kelompok lain juga mengikuti peragaan serupa. Mereka didampingi rekan Suaif dan staf Yayasan SAHARI.
Sorot mata mereka tajam tanpa berkedip, menyimak paparan fasilitator Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) Plus di Balai Negeri Selamon, Banda Besar, Maluku Tengah, Jumat, 3 Juli 2026.

Pembagian kelompok usai Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Stasiun Meteorologi Maritim Ambon, Hasan, memperkenalkan produk instansinya tentang informasi cuaca maritim, meliputi prediksi peringatan gelombang satu hari hingga tiga hari.
Selanjutnya prakiraan cuaca wilayah Maluku, cuaca pelabuhan, dan pengukuran skala angin berdasarkan pengaruhnya di darat maupun laut.
“Memperkirakan kecepatan angin berdasarkan efek visual yang terlihat di darat maupun permukaan air. Di laut, ditandai dengan tinggi gelombang dan banyak buih,” jelasnya.
Para nelayan juga diajak membaca data Indonesian Weather Information for Shipping (INAWIS). Kanal ini membantu nelayan menemukan daerah penangkapan (fishing ground) ikan potensial.
“INAWIS terintegrasi dengan situs cuaca dan iklim BMKG. Fiturnya membantu nelayan menemukan lokasi keberadaan ikan secara spesifik dan jenisnya,” papar Hasan.
SLCN Plus merupakan kolaborasi Yayasan SAHARI bersama BMKG Stasiun Meteorologi Kelas IV Maritim Ambon, didukung Caritas Germany dan BNPB. Sebanyak 20 nelayan asal Negeri Selamon dan Lautang dilibatkan dalam kelas tersebut.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



