LingkungamMaluku

Tubuh yang Mengingat Hutan: Catatan dari Pertunjukan “Lateri; Ingatan Tubuh Bumi”

Oleh: Embong Salampessy (penikmat seni dan Koordinator Wai Ihu Maluku)


Ketika Malam Mengendap di Samping Rumah Bev Thenu

Angin malam Teluk Ambon berembus tipis, membawa aroma khas tanah lembap setelah rinai gerimis dan wangi tajam daun cengkih yang mengendap di kegelapan. Di sebuah sudut Lateri, persis di pelataran terbuka samping rumah keluarga Bev Thenu, malam tidak sepenuhnya menjadi milik kegelapan. 

Dedaunan tinggi melambai kaku di bawah guyuran cahaya sorot panggung bertonasi jingga dan hangat, sementara gelombang suara serangga malam saling bersahut-sahutan dengan derik rerumputan yang terinjak.

Di atas tanah rumput yang sedikit licin, berderet kursi-kursi rotan sederhana. Puluhan penonton duduk dengan tenang. Ada keheningan yang tak biasa menggantung di udara. Tidak ada tirai kain tebal atau pembatas yang memisahkan area menonton dengan pepohonan liar di sekelilingnya; latar belakang panggung hitam rendah itu adalah batang-batang pohon besar yang berdiri tegap, seolah mereka adalah barisan aktor diam yang siap bersaksi.

Sebelum pertunjukan dibuka, ruang itu bukan milik manusia. Ia adalah milik udara dingin, deru pepohonan, dan denyut alam yang menunggu. 

Pembaca atau siapapun yang hadir malam itu diundang bukan untuk sekadar menjadi penonton pasif, melainkan melangkah masuk melintasi batas antara kehidupan permukiman yang semakin rapat dan sisa-sisa nafas tanah yang bertahan.

lateri
Tamara Agustina Hurulean tampil dalam sorot cahaya merah pada pertunjukan “Lateri; Ingatan Tubuh Bumi”, merepresentasikan hubungan tubuh manusia dengan alam yang terluka.(Foto: Dok. Lateri Ingatan Tubuh Bumi)

Layar Putih dan Suara dari Masa Lalu

Sebelum gerak pertama mengoyak kegelapan, sebuah layar putih sederhana di sisi kiri panggung menyala. Cahaya proyektor memotong malam, memancarkan potongan gambar video pendek. Tiga wajah sepuh muncul bergantian: Oma Yo (Johana Karuwal), Bapak Bob (Jacobus de’Fretes), dan Bapak Dedi (Fredrik Simatauw).

Melalui tuturan mereka yang perlahan, ingatan kolektif tentang tempat bernama Lateri ini dipanggil kembali. Mereka mengenang lanskap masa lalu –tentang Pasir Putih, Nuntetu, dan Kusu-Kusu– saat hutan masih rimbun memeluk kawasan ini, sungai-sungai mengalir jernih tanpa sumbatan, dan pohon-pohon purba berdiri melingkupi ruang hidup warga. 

Pada masa itu, hubungan manusia dengan alam tidak sebatas penguasaan, melainkan sebentuk laku bertetangga yang karib.

Namun, lanskap tuturan dalam video dokumenter tersebut perlahan bergeser. Nada suara para tetua berangsur suram tatkala memetakan Lateri hari ini. Pembangunan permukiman yang masif, buldozer yang meratakan kontur bukit, serta pembagian zona yang kini dikenal kaku sebagai Lateri 1, 2, dan 3, telah mengikis ruang hijau dan memutuskan alur air.

Video tersebut tidak hadir sebagai kuliah sejarah yang kering. Tuturan para sesepuh menjadi jembatan emosional: menyeret penonton dari memori tentang tanah yang hidup menuju kepedihan atas bentang alam yang dirubah perlahan oleh tembok-tembok beton. 


Penulis :
Editor :

1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button