Tubuh yang Mengingat Hutan: Catatan dari Pertunjukan “Lateri; Ingatan Tubuh Bumi”
Ketika layar putih akhirnya padam, penonton telah dibekali sebentuk penderitaan yang tak kasat mata, penderitaan atas ingatan tempat tinggal yang terkelupas.
Laju Nafas dan Tubuh yang Bergulat di Panggung
Di panggung kayu beralas hitam yang dipasang langsung di atas tanah rumput, pementasan teater tubuh bertajuk “Lateri; Ingatan Tubuh Bumi” dimulai.
Para penari –mengenakan busana longgar berwarna cokelat tanah yang kusam– memulai gerak dalam tempo yang sangat lambat. Tubuh-tubuh mereka meliuk rendah, hampir merekat dengan permukaan panggung. Jemari tangan meregang seperti akar yang berupaya mencengkeram tanah runtuh, sementara kepala mendongak mencari celah cahaya di antara kerimbunan dedaunan.
Ritme gerak yang mulanya teratur dan perlahan mendadak pecah. Gerakan berubah menjadi lecutan-lecutan kaku yang menghentak. Tubuh penari terhempas, bergetar hebat, lalu terjerembap seolah-olah batang pohon tak kasat mata sedang ditumbangkan secara paksa di dada mereka. Suara deru napas para penari terdengar memburu, memotong kesunyian malam.
Di satu adegan, penari bergerak membentuk batas-batas petak yang kaku di atas panggung, merepresentasikan kotak-kotak bangunan rumah dan dinding semen yang membenteng ruang gerak manusia.

Anak-anak kecil lalu berlari memotong panggung dalam permainan tradisional, bersanding dengan sosok dewasa yang bergerak limbung. Tatapan mata para aktor tidak mengarah kepada penonton, melainkan menerobos kegelapan pepohonan di latar belakang.
Tidak ada dialog lisan yang menjelaskan apa yang sedang terjadi. Musik latar berupa paduan instrumen organik dan eksperimental berjalin dengan gemerisik angin malam asli dari pepohonan sekitar.
Antara panggung kayu, sorot lampu merah-jingga, tubuh bersalut kain tanah, dan batangan pohon cengkih, jati serta mahoni di sekelilingnya, garis batas antara seni artifisial dan alam nyata melebur.
Menyulam Luka Tanah: Gagasan Tamara Agustina Hurulean
Karya pertunjukan yang presisi sekaligus liar ini lahir dari gelisah yang lama mengendap dalam dada Tamara Agustina Hurulean. Sebagai seorang seniman pertunjukan sekaligus pendeta yang lahir dan tumbuh besar di Lateri, Tamara memandang tanah kelahirannya bukan sekadar peta administratif, melainkan bagian dari tubuhnya sendiri.
“Beta ini lahir putus pusar di Lateri,” kata Tamara dalam sesi diskusi usai pertunjukan, menggunakan dialek lokal yang hangat. “Melihat berbagai macam keindahan dan kelebihan yang ada di Lateri, tapi ternyata katong lupa beberapa hal yang sudah katong tinggalkan.”
Penulis :
Editor :



