LingkungamMaluku

Tubuh yang Mengingat Hutan: Catatan dari Pertunjukan “Lateri; Ingatan Tubuh Bumi”

Pohon-pohon besar yang ditumbangkan bukan sekadar peneduh; mereka adalah pilar penanda sejarah lisan, tempat anak-anak belajar mengenali aroma musim, dan muara bagi narasi lokal yang mengikat persaudaraan antarwarga. Ketika lanskap itu hancur, amnesia ekologis mulai menjangkiti generasi muda. Anak-anak tidak lagi mengenali alur air sungai tempat leluhur mereka dulu membasuh muka.

Di sinilah teater tubuh yang digagas Tamara mengambil peran vital. Tubuh manusia bertindak sebagai arsip alternatif. Ketika prasasti batu bisa dihancurkan dan hutan dapat diratakan, gerak-gerak bersalut penderitaan dan kerinduan yang direkam di panggung menjadi sarana untuk memanggil kembali ingatan yang dibungkam. 

Seni pertunjukan tidak hadir untuk menggurui atau memberikan resolusi instan bagi kerusakan lingkungan, melainkan membuka ruang puitis di mana rasa kehilangan dapat dirasakan bersama-sama secara nyata.

Pementasan malam itu bermuara pada satu titik kulminasi yang sunyi. Musik eksperimental yang menghentak perlahan melandai, menggantung pada satu dentang rendah sebelum benar-benar lenyap.

Di atas panggung, tubuh para penari perlahan mengendurkan ketegangannya. Mereka tidak berdiri tegak untuk memberi hormat secara formal, melainkan membiarkan posisi tubuh mereka meliuk pasrah di atas permukaan panggung yang dingin. Sorot lampu panggung meredup perlahan hingga tersisa satu pendar jingga yang menyinari riap daun pohon cengkih di latar belakang.

Di barisan kursi rotan, puluhan penonton terpaku. Tidak ada tepuk tangan yang mendadak pecah. Ada selang beberapa detik ruang jeda yang mengendap, sebuah keheningan yang tebal di mana semua orang di tempat itu tampak enggan merusak momen kebersatuan yang baru saja terbentuk. 

Angin malam dari arah teluk kembali terdengar menyusup di antara daun-daun cengkih dan mahoni, bersenandung pelan mengisi ruang kosong yang ditinggalkan musik pertunjukan.

Lampu panggung akhirnya padam sepenuhnya. Penonton perlahan beranjak dari tempat duduk mereka, berjalan merintasi jalan setapak berumput dalam kegelapan yang tenang. Besok pagi, rangkaian aksi berlanjut pada gerakan fisik menanam bibit-bibit pohon baru di tiga titik Lateri. Namun malam itu, setiap orang melangkah pulang dengan membawa sebuah pertanyaan yang mengusik ke dalam dada:

“Ketika hutan berubah menjadi deretan rumah, apakah yang benar-benar hilang hanya pepohonan? Ataukah ingatan yang selama ini diam-diam hidup di dalam tubuh kita?”.(*)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis :
Editor :

Previous page 1 2 3 4

Berita Serupa

Back to top button